Sekretaris Negara Amerika Serikat, Mike Pompeo - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami
Jakarta, Bolong.id - Amerika Serikat (AS) menyerukan negara-negara Asia Tenggara, agar mendukung AS di sengketa Laut Tiongkok Selatan. Pengamat mengatakan, seruan Menlu AS, Mike Pompeo, pada Senin (3/8/2020) kepada Menlu Singapura, Vivian Balakrishnan dan Menlu RI, Retno Marsudi mendukung Washington untuk mengecam klaim Beijing pada perairan tersebut. Tetapi, kedua negara memilih tetap bersikap netral.
Departemen Luar Negeri AS pada hari Selasa (4/8/2020) menerbitkan pernyataan singkat tentang percakapan Pompeo dengan para menteri tersebut. Bersama Retno, ia berbicara tentang krisis COVID-19 dan masalah keamanan, serta dukungan Amerika terhadap negara-negara Asia Tenggara yang menjunjung tinggi kepentingan mereka di Laut Tiongkok Selatan di bawah hukum internasional.
Dengan Balakrishnan, Pompeo menggarisbawahi oposisi Washington terhadap upaya Beijing yang "menggunakan paksaan untuk mendorong pernyataan maritimnya yang melanggar hukum" di Laut Tiongkok Selatan, tempat Taiwan dan empat negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Malaysia, Vietnam, Filipina dan Brunei juga persengketakan.
Menurut William Choong, dosen senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, langkah untuk menjangkau Singapura dan Indonesia adalah "mengumpulkan sejumlah dukungan" dalam 10 anggota Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk sikap AS di Laut Tiongkok Selatan.
Namun, Singapura dan Indonesia telah menjelaskan prioritas mereka saat kedua negara ini tengah memerangi pandemi COVID-19 dan terus bergantung pada AS dan Tiongkok di bidang perdagangan dan investasi, dilansir dari South China Morning Post.
Pernyataan oleh Kementerian Luar Negeri Singapura mengatakan Balakrishnan telah menerima panggilan telepon dari Pompeo, di mana keduanya membahas kolaborasi dalam penelitian dan pengembangan vaksin serta infrastruktur bilateral, dan bahwa menteri Singapura telah menegaskan kembali negara tersebut masih konsisten dalam posisinya di perairan yang disengketakan.
"Singapura bukan negara penuntut dan kami tidak memihak pada klaim teritorial yang bersaing," katanya. "Minat utama kami adalah menjaga perdamaian dan stabilitas di salah satu jalur air tersibuk di dunia."
Indonesia, selaku ekonomi terbesar di Asia Tenggara, juga mengisyaratkan prioritasnya ketika Menteri Luar Negeri Retno mengunggah sebuah cuitan di Twitter tentang panggilan teleponnya dengan Pompeo, mengatakan bahwa ia telah mengangkat dua masalah, yaitu produksi vaksin serta penguatan perdagangan dan investasi.
Indonesia sendiri bukan negara penuntut di Laut Tiongkok Selatan, tetapi pulau-pulau di perairan Natuna telah menjadi titik panas dengan Tiongkok selama beberapa tahun terakhir.
Aristyo Rizma Darmawan, ahli hukum internasional Universitas Indonesia, mengatakan, Indonesia sering dianggap sebagai "perantara yang jujur" dalam perselisihan wilayah, dan seperti Singapura, tidak akan memilih pihak ketika ditanya mengenai persaingan AS-Tiongkok sebagai fitur kebijakan luar negerinya.
Hikmahanto Juwana, profesor hukum internasional Universitas Indonesia, mengatakan, Pompeo telah gagal mendapatkan dukungan dari Singapura dan Indonesia untuk melawan Tiongkok karena kedua negara ASEAN tersebut memilih untuk tetap "netral".
Dia menambahkan bahwa AS akan membutuhkan dukungan lebih besar dari negara-negara Asia Tenggara jika ingin mengirimkan pesan bahwa Tiongkok tidak boleh mendominasi Laut Tiongkok Selatan. (*)
Advertisement