Batu bara di Indonesia - Image from VOA
Guangxi, Bolong.id - Tiongkok dan Indonesia baru-baru ini menandatangani perjanjian pasokan batu bara selama tiga tahun, yang akan mengimpor batu bara dari Indonesia. Sehubungan dengan hal ini, Bloomberg menulis pada Jumat (27/11/20) bahwa hubungan perdagangan antara Tiongkok dan Australia, pemasok batu bara utama lainnya, mungkin semakin melemah oleh hal ini.
Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia mengeluarkan pengumuman di akun publik WeChat pada Jumat (27/11/20), yang menyatakan bahwa Duta Besar RRT untuk RI, Xiao Qian, diundang untuk menghadiri pertemuan kerja sama pengadaan batu bara Tiongkok-Indonesia pada Rabu (25/11/20). Disaksikan oleh pimpinan kedua belah pihak, perusahaan importir batu bara Tiongkok, CCTDA (China Coal Transportation and Distribution) dan perusahaan pengekspor batu bara Indonesia, APBI (Asosiasi Pertambangan batu bara Indonesia), menandatangani kontrak kerja sama dengan nilai pembelian 28,72 juta ton, senilai USD 1,467 miliar (Rp20,75 triliun).
Dubes Xiao Qian dalam pidatonya menyampaikan bahwa batu bara merupakan komoditas penting dalam perdagangan bilateral Tiongkok-Indonesia. Sejak 2015 hingga 2019, impor batu bara Tiongkok dari Indonesia meningkat dari 73 juta ton menjadi 138 juta ton, meningkat hampir 90%.
Ini sepenuhnya mencerminkan, di bawah kepemimpinan yang kuat dari Presiden Xi Jinping dan Presiden Joko Widodo, Tiongkok dan Indonesia telah secara aktif menghubungkan inisiatif "Belt and Road" dan strategi "Global Maritime Fulcrum", serta pencapaian luar biasa dari kerja sama praktis bilateral.
Dubes Xiao Qian menunjukkan, ketika epidemi COVID-19 global terus menyebar dan unilateralisme serta proteksionisme menjadi semakin intensif, sangatlah penting untuk mengadakan pertemuan kerja sama ini dalam kombinasi metode online dan offline. Pertemuan kerja sama ini adalah wujud lain dari ekspansi impor Tiongkok dari Indonesia.
Pertemuan tersebut membangun platform baru bagi industri batu bara kedua negara untuk memperkuat kerja sama, meningkatkan pemahaman, dan membuka pasar.
Ini menunjukkan keunggulan berbeda dari kerja sama ekonomi dan perdagangan Tiongkok-Indonesia, yakni saling menguntungkan, serta promosi pembangunan yang sama. Ciri-ciri tersebut juga menyatakan kesediaan dan tekad kedua belah pihak demi memastikan keamanan dan kelancaran arus rantai industri dan rantai pasokan, membantu pemulihan ekonomi, dan meningkatkan kerja sama internasional.
Menurut Bloomberg News, ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok dari Januari hingga September 2020 ini turun dari yang mulanya USD 5,8 miliar (Rp81,3 triliun) pada periode yang sama tahun lalu menjadi USD 4,9 miliar (Rp68,7 triliun).
Media mengutip berita Asosiasi Pertambangan batu bara Indonesia bahwa Indonesia akan berupaya meningkatkan ekspor batu bara ke Tiongkok mulai 2021 dan menarik investasi demi meningkatkan penelitian dan pengembangan teknologi pemrosesan.
Bloomberg juga menyebutkan bahwa saat ini hubungan antara Tiongkok dan Australia terus memburuk. Ia juga mengklaim, karena kedua belah pihak telah memperdalam hubungan mereka, Tiongkok telah menempatkan banyak komoditas Australia dalam "daftar hitam". Sementara itu, Tiongkok dan Indonesia menandatangani perjanjian pasokan batu bara, Australia mungkin akan terpukul lagi.
Menanggapi pertanyaan yang relevan pada Rabu (25/11/20), Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa Tiongkok telah memperkuat inspeksi kualitas dan keamanan batu bara impor dan pengujian proyek perlindungan lingkungan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, untuk lebih melindungi hak dan kepentingan yang sah perusahaan Tiongkok dan keamanan lingkungan. (*)
Advertisement