Lama Baca 11 Menit

Kisah-kisah Warga Indonesia di China Selama Corona

21 March 2020, 11:27 WIB

Kisah-kisah Warga Indonesia di China Selama Corona-Image-1

Mahasiswa Indonesia di Tiongkok - Image from faktualnews.co

Pemerintah Indonesia berhasil mengevakuasi ratusan warga negara Indonesia (WNI) dari kota Wuhan, China yang menjadi tempat pertama mewabahnya virus corona.

Akan tetapi dari total awal 245 WNI yang akan dieavukasi, 7 orang diantaranya memutuskan untuk tidak ikut pulang ke Tanah Air. Sehingga hanya 238 saja yang tiba di Bandara Hang Nadim Batam, Minggu (2/2). Lalu bagaimana kisah WNI yang masih bertahan di Tiongkok ditengah virus corona?

Percaya Keadaan Akan Baik-baik Saja

Jumlah infeksi virus corona di Tiongkok dalam sepekan terakhir dilaporkan menurun drastis. Rumah sakit darurat yang dibangun khusus untuk menangani pasien positif corona pun sudah mulai mengurangi aktivitas medisnya.

Dilansir dari laman CNN (14/03/20), Komisi Kesehatan Kesehatan China (NHC) melaporkan jumlah pasien yang sembuh dan diizinkan pulang saat ini mencapai 64.111 orang. Meskipun begitu, Tiongkok masih menjadi negara dengan pasien corona tertinggi di dunia dengan angka mencapai 80.813 orang dan 3.176 diantaranya meninggal dunia.

Terbaru, laporan pasien positif corona di Tiongkok hanya delapan orang, lima di antaranya berasal dari Wuhan. Penurunan itu diduga imbas dari penutupan serta pembatasan aktivitas di Kota Wuhan dan Provinsi Hubei yang dilakukan sejak 23 Januari lalu, guna melawan penyebaran virus corona.

Dela Afifania, seorang mahasiswa S3 asal Indonesia yang tinggal di Wuhan, mengaku bosan setelah pemerintah Tiongkok dan pihak universitas memberlakukan isolasi bagi seluruh warga kota.

Ia pun mengaku jika kebijakan isolasi kampus membuatnya tak bisa keliling gedung karena harus tinggal di asrama dan tidak diperbolehkan keluar.

Sebagai gantinya, Wuhan University of Technology, tempat Dela belajar menerapkan kelas daring (online) melalui aplikasi bagi seluruh mahasiswanya.

"Gara-gara virusnya itu, maka dia (kelas perkuliahan) jadi online. Satu semester ini kayaknya," ungkap Dela seperti yang dilansir dari laman CNNIndonesia.com, Kamis (12/3).

Akibatnya, Dela harus menghabiskan waktu sekitar empat jam untuk duduk di depan komputer selama kelas berlangsung.

Dela merupakan salah satu dari tujuh WNI yang masih tinggal di Tiongkok. Sekitar tiga WNI yang masih berada di Wuhan tidak bisa kembali ke Tanah Air lantaran tidak lolos pemeriksaan kesehatan.

Kisah-kisah Warga Indonesia di China Selama Corona-Image-2

Suasana jalanan kota Wuhan yang terlihat lebih sepi - Image from www.cnnindonesia.com

Tak hanya mengisolasi, pemerintah Tiongkok juga mengeluarkan pembatasan perjalanan secara drastis guna menekan penularan virus corona. Layanan transportasi publik seperti kereta dan bus pun terhenti karena kebijakan tersebut.

Dela yang tinggal di gedung asrama yang berlokasi di daerah Wuchang, mengatakan bahwa pihak universitas tempatnya belajar, menutup asrama demi menghindari penyebaran virus corona. Karena hingga saat ini, tidak ada satu pun orang yang dinyatakan terinfeksi virus corona di kampus tersebut.

"Alasannya gini, dia bilang karena di dormitori ini enggak ada yang sakit, mereka mau tutup. Supaya kita aman," ujar Dela saat dihubungi melalui sambungan telepon oleh pihak CNN (14/03/2020).

Di Kota Wuhan sendiri, daerah yang terdampak corona paling parah yakni Hankou, berjarak sekitar satu jam berkendara dari Wuchang - tempat tinggal Dela.

Meskipun harus berada di dalam asrama selama berminggu-minggu, Dela mengaku tidak pernah kekurangan pasokan makanan dan alat kesehatan.

Ketika wabah corona mulai merebak, ia sempat belanja kebutuhan bulanan dalam jumlah yang banyak sebagai persediaan saat kota mulai diisolasi dan persiapan saat tak ada toko yang buka.

Meskipun corona mewabah, kesehatan mahasiswi jurusan administrasi bisnis ini tetap terpantau bagus, ia mengungkapkan beberapa restoran masih buka dan dapat dipesan secara daring melalui aplikasi. 

Saat makanan yang dipesan datang, mahasiswa tak boleh mengambilnya sendiri, karena penjaga asrama akan mengambil makanan dari kurir yang menunggu di gerbang asrama. Penjaga asrama kemudian menggunakan motor ke dalam gedung untuk mengantar makanan ke para mahasiswa.

Tak hanya itu, pihak universitas pun secara rutin membagikan kebutuhan sayur, buah, hingga daging bagi para penghuni asrama, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu. Bahan-bahan tersebut bahkan diambil oleh universitas dari toko-toko di Wuhan yang tutup.

Pasokan bahan makanan yang sangat mencukupi bahkan membuat Dela tak lagi bisa menyimpan di lemari pendingin di kamar asramanya, "Sampai kamar asrama kini penuh dengan makanan, kulkas enggak muat untuk menyimpan sayuran," kata Dela.

Sejak tinggal selama 6,5 tahun di Kota Wuhan, Dela mengaku nyaman dan tak khawatir terinfeksi virus corona. Menurutnya, anak muda mempunyai kekebalan tubuh yang cukup kuat.

Dela mengaku mendapat informasi dari salah seorang pengajar di Wuhan University of Technology, bahwa penyebaran virus corona saat ini mulai berkurang. Warga kemungkinan juga akan diperbolehkan untuk keluar dalam waktu dekat.

"Xi Jin-ping (Presiden Tiongkok kemarin juga datang ke Wuhan. Kalau Wuhan enggak aman, kayaknya enggak mungkin Xi Jin-ping datang," tambah Dela.

Selain itu, biaya perawatan pasien Covid-19 pun akan ditanggung oleh pemerintah Tiongkok.

Dela mengaku tak rela meninggalkan kota yang berpenghuni 11 juta itu, meskipun tengah 'sakit'.

"Aku berasa sudah sayang banget sama Wuhan, kayak punya rumah kedua. Jadi aku stay di sini. Aku tahu, sebentar lagi pasti juga sembuh," ujar Dela.

Bentuk solidaritas untuk WNI lainnya

Tak hanya Dela, seorang mahasiswa asal Yogyakarta yang juga merupakan dosen salah satu universitas di Yogyakarta, Adhita Sri Prabakusuma pun juga memutuskan untuk tetap tinggal di Tiongkok ditengah merebaknya wabah corona

Adhita mengatakan bahwa di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, tempat ia tinggal saat ini, sudah ada 32 orang dari total 102 warga di Provinsi Yunnan yang terinfeksi virus corona.

Meskipun demikian, Adhita mengaku memilih tetap bertahan, sementara 31 Warga Negara Indonesia yang berada di kota tersebut telah kembali Indonesia bersama dengan rombongan lainnya.

Menurut Ardhita, ia bersama lima pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kunming, termasuk istrinya, memilih untuk bertahan di Kota Kunming sebagai bentuk solidaritas dan dukungan moral bagi WNI lainnya yang masih berada di Tiongkok.

"Saya sebagai Ketua PPI Kunming, setiap hari bertanggung jawab memantau kondisi WNI yang ada di Kunming," kata Adhita seperti yang dilansir dari laman CNN Indonesia (05/02/2020).

Adhita mengungkapkan bahwa ia dan rekan-rekan lainnya dalam keadaan yang sehat, pasokan logistik dan kesehatan pun telah dipenuhi oleh pihak kampus.

"Sejauh ini, untuk pasokan logistik dan masker sangat aman. Dari pihak kampus selalu menyediakan masker yang baru, mengecek temperatur setiap mahasiswa, mencatat berbagai perubahan kesehatan, dan melakukan tindakan kesehatan yang diperlukan jika ada masalah. Makanan di kantin Halal juga tersedia di setiap kampus," kata Adhita.

Ia berharap agar pemerintah Indonesia dapat membantu mengirimkan bantuan masker n95 secara berkala kepada WNI yang masih bertahan di Tiongkok, mengingat saat itu masker jenis tersebut sudah langka.

Ardhita juga meminta agar pemerintah RI memberikan kemudahan kepada WNI yang masih ingin pulang ke Tanah Air dengan penerbangan langsung maupun tidak langsung. Termasuk, memberikan dukungan moril bagi WNI dari Wuhan yang sedang menjalani isolasi di Natuna agar tetap sabar dan tabah.

"Memberikan support dan perhatian kepada kami, WNI yang tetap bertahan di wilayah China untuk tetap tenang dan mematuhi segala standar yang ditetapkan otoritas pemerintah China," ujar mahasiswa S3 jurusan Ilmu dan Sumber Daya Pangan ini seperti yang dilansir dari laman CNNIndonesia (05/02/2020).

Bagaimana Proses Kedatangan WNI asal Tiongkok di Indonesia?

Kisah-kisah Warga Indonesia di China Selama Corona-Image-3

Warga Natuna menolak wilayah tempat tinggalnya menjadi tempat isolasi WNI dari Wuhan - Image from www.cnnindonesia.com

Jika WNI di Tiongkok diperlakukan dengan sangat layak, bagaimana dengan Indonesia?

Dilansir dari laman Kompas.com (02/02/2020), meskipun saat ini pemerintah telah menetapkan Kabupaten Natuna sebagai lokasi karantina 245 WNI yang baru saja dipulangkan dari Wuhan, China, akan tetapi sejumlah warga Natuna tetap menolak kedatangan 245 WNI tersebut. 

Guna mengamankan dan menjaga situasi Natuna tetap kondusif, Polda Kepri pun langsung turun tangan dengan menerjunkan sedikitnya 117 personel Brimob Polda Kepri. 

Kabid Gunas Polda Kepri Kombes Pol Harry Goldenhardt saat ditemui Kompas di Bandara Hang Nadim membenarkan atas pengiriman 117 personel tersebut untuk melalukan pengamanan agar Natuna tetap kondusif. 

"Pagi tadi kami terbangkan 117 personel," kata Harry seperti yang dilansir dari laman Kompas Minggu (2/2/2020).

Saat ditanyai sejauh mana penolakan yang dilakukan warga Natuna, Harry mengaku hanya sebatas penyampaian aspirasi saja. Akan tetapi sejauh ini hal tersebut bisa dikondisikan oleh pihak terkait.

Saat ini personel yang bertugas di Polres Natuna tengah melakukan upaya pendekatan. Harry menegaskan jika 245 WNI yang dikarantina di Natuna tersebut, semuanya dalam kondisi sehat. Karena sebelum dievakuasi ke Batam, semua WNI telah diperiksa dan dinyatakan sehat. 

"Kalau tidak sehat, pasti tidak diperbolehkan keluar oleh pemerintah China. Karena sehatlah, makanya diperbolehkan keluar dari China," kata Harry. 

Harry juga berharap agar masyarakat Kepri bersedia menerima 245 WNI yang baru saja dipulangkan ke Indonesia. Sebab, bagaimanapun, mereka semua adalah saudara sebangsa dan setanah air. 

"Seperti saya katakan tadi, 245 WNI tersebut dalam kondisi sehat. Bagaimanapun mereka saudara kita, warga Indonesia juga, jadi sudah saatnya kita saling membantu dan memberi dukungan," tambah Harry.

Dari dua kejadian ini agaknya kita bisa menilai bagaimana kontrasnya perbedaan antara Indonesia dan Tiongkok dalam penanganan warganya selama wabah corona.

Jika pemerintah Tiongkok memberlakukan Warga Negara Indonesia dengan baik, mengapa negaranya sendiri yaitu Indonesia tak sanggup melakukan hal serupa?