Lama Baca 6 Menit

5 Fakta Terkait Ledakan Bom di Gereja Katedral Makassar

29 March 2021, 10:45 WIB

5 Fakta Terkait Ledakan Bom di Gereja Katedral Makassar-Image-1

Bom Makassar - Image from Antara

5 Fakta Terkait Ledakan Bom di Gereja Katedral Makassar-Image-2

Kadivhumas Mabes Polri, Irjen Pol Argo Yuwono - Image from berbagai sumber. Segala keluhan terkait hak cipta silahkan hubungi kami

Jakarta, Bolong.id - Ledakan bom bunuh diri terjadi di depan Gereja Hati Yesus Yang Mahakudus atau Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021) pagi. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadivhumas) Mabes Polri, Irjen Pol Argo Yuwono membeberkan sejumlah temuan polisi dari insiden tersebut.

1. Terduga Pelaku 2 Orang

Polisi mengungkapkan terduga pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar yang beralamat di Jalan Kajaolalido, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar ini berjumlah dua orang. Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan telah mengumumkan bahwa kedua pelaku dinyatakan tewas.

Dalam aksinya, polisi menyebut terduga pelaku mengendarai sepeda motor. Dikatakan para pelaku sempat ingin masuk ke halaman gereja namun dihadang petugas sekuriti.

"Pada awalnya memang pelaku yang diduga menggunakan roda dua ini akan memasuki pelataran gereja. Kebetulan [pada] jam tersebut sudah selesai kegiatan misa dan mungkin melihat banyak yang keluar. Saat ini [memang] tidak full [jemaat yang beribadah] karena sesuai protokol kesehatan, [dan] dari dua orang tadi dicegat oleh sekuriti gereja dan terjadi ledakan itu," tutur Argo dalam jumpa pers di Mabes Polri, Minggu (28/3).

2. Ada Korban Tewas dan 20 Korban Luka-luka

Menurut Mabes Polri, sejauh ini insiden ledakan bom memakan korban tewas jemaat dan petugas sekuriti disamping dari pelaku bom bunuh diri. Selain itu, didapati 20 orang luka-luka. 

Dari data yang didapatkan, korban luka mendapat penanganan dokter di sejumlah rumah sakit di Makassar karena menderita luka pada bagian wajah, leher, dada hingga kaki akibat serpihan bom. Secara rinci, tiga orang mendapat penanganan di RS Stella Marris, tujuh orang dilarikan ke RS Akademis dan empat orang dibawa ke RS Pelamonia. 

3. Olah TKP

Argo mengungkapkan polisi tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Langkah itu dilakukan guna mengetahui secara pasti kronologi peristiwa ledakan bom sekaligus mengidentifikasi jaringan terorisme yang diikuti terduga pelaku.

"Kita sudah menggelar police line, kita akan menyisir, kita akan olah TKP. Entah itu metode spiral untuk melihat barang bukti. Dari Inafis dan Puslabfor [Pusat Laboratorium Forensik] sedang menyisir. Baik temuan tubuh korban [maupun] serpihan [bom] sedang kita olah," jelas Argo.

"Setelah kita dapat hasil olah TKP, kemudian kita ketahui sumber ledakan, apa itu berupa satu bom, apa itu high explosive atau low explosive, itu bagian penyelidikan Densus. Nanti kita bisa ketahui jaringan mana. Mohon bersabar untuk jaringan apa sedang kita lakukan penyelidikan," lanjutnya.

4. Kecaman Ormas dan Pemerintah

Sejumlah warga, organisasi masyarakat dan pemerintah kompak mengecam insiden di Gereja Katedral Makassar. Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sudah angkat suara menanggapi aksi teror ini.

Ketua PWI, Romo Ignatius Suharyo, menyebut bahwa ledakan bom bunuh diri itu bukan hanya melukai hati umat Katolik, melainkan juga seluruh bangsa Indonesia dan kemanusiaan.

Sementara itu, Mahfud MD menegaskan aparat penegak hukum akan bekerja semaksimal mungkin termasuk mengungkap jaringan teroris terduga pelaku.

"Pemerintah mengutuk keras teror bom bunuh diri tersebut dan akan terus melakukan pengejaran terhadap jaringan para pelakunya. Jika ada yang tahu atau mencurigai sesuatu yang terkait dengan peristiwa tersebut harap menginformasikan ke kantor polisi terdekat atau ke aparat yang terkait," kata Mahfud dalam sebuat cuitan pada akun twitter @mohmahfudmd, yang di-post Minggu (28/3/2021).

5. BNPT Sebut Ideologi Mirip Pelaku Bom Gereja Surabaya

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengatakan ada kemiripan ideologi antara pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dengan tiga bom bunuh diri di Surabaya pada 2018 lalu.

"Ya setidak-tidaknya cara berpikir pelaku dan sikap pelaku memiliki semacam kemiripan. Pelaku bisa memiliki kesamaan pemahaman dalam hal ideologi," tutur Boy dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Minggu (28/3/2021).

Namun Boy menyangkal insiden ini merupakan bentuk kecolongan lembaganya. BNPT tidak merasa kecolongan lantaran menurutnya kejahatan tersebut bisa terjadi secara dinamis sehingga tidak mudah dideteksi.

"Jadi, niat melakukan kejahatan tidak serta merta mudah dideteksi. Mereka mencari kesempatan kemudian melakukan aksi. Kita tidak menutup kemungkinan mengenai fakta bahkan aparat keamanan, termasuk polisi, yang sedang bertugas pun menjadi target. Ini sebuah kejahatan extraordinary," sambung Boy. (*)