Strain COVID-19 Urumqi Mirip dengan Beijing - Image from : gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami
Urumqi, Bolong.id - Para ahli mengatakan bahwa hasil dari pengurutan gen virus di Xinjiang mirip dengan jenis virus yang terjadi pada klaster wabah COVID-19 Beijing baru-baru ini. Mereka juga menjelaskan menjelaskan bahwa banyaknya kasus infeksi tanpa gejala yang dikonfirmasi di Urumqi merupakan hasil dari dilakukannya tes asam nukleat sejak dini. “Banyak pasien melakukan tes COVID-19 sebelum mereka menunjukkan gejala, hal ini merupakan pertanda baik dalam pengendalian pandemi”, ungkap Zhang Yuexin (张跃新), seorang ahli medis yang merupakan bagian dari tim anti-pandemi Urumqi dan direktur departemen penyakit menular Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Xinjiang. Sementara Yang Zhanqiu (杨占秋), wakil direktur departemen biologi patogen di Universitas Wuhan, mengatakan bahwa musim panas dan suhu tinggi dapat melemahkan efek virus pada individu, sehingga mereka menunjukkan lebih sedikit gejala. Dampak infeksi COVID-19 juga bervariasi, dipengaruhi oleh kekebalan individu yang berbeda, kelompok etnis, ras dan jenis gen, dilansir dari Global Times.
Wabah COVID-19 yang tiba-tiba terjadi di Urumqi telah menarik perhatian nasional. Staf medis dari banyak provinsi di Tiongkok diutus untuk membantu Urumqi. Banyak dari mereka membantu dalam pengujian asam nukleat di kota yang kini sedang berusaha untuk menguji semua penduduknya, serta tes putaran kedua bagi penduduk yang tinggal di daerah-daerah prioritas dengan risiko tinggi, seperti Tianshan dan Distrik Shayibake.
Zhang Yuexin (杨占秋) menjelaskan, hasil pengurutan gen COVID19 di Urumqi menunjukkan kemiripan dengan strain virus yang terlihat dalam wabah yang baru-baru ini terjadi di Beijing. Laporan sebelumnya mengatakan bahwa jenis COVID-19 yang terdeteksi di pasar Xinfadi Beijing berasal dari Eropa.
Sementara itu, otoritas kesehatan di Xinjiang mengungkapkan jika pasien COVID-19 pertama di Urumqi adalah seorang wanita yang bekerja di Zhongquan Square dan dikonfirmasi positif COVID-19 pada 15 Juli. Wabah di Urumqi terkait dengan pesta pernikahan yang kemungkinan melibatkan beberapa ratus orang. Beberapa ritual pernikahan, seperti saling mencium pipi dan berpegangan tangan, dapat membantu menyebarkan virus. Namun, alur penularan infeksi lainnya belum dirilis ke publik.
Di sisi lain, penyelidikan epidemiologis di wilayah tersebut dapat terhambat karena perbedaan bahasa. Para peneliti mungkin memerlukan lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan pasien dari kelompok etnis minoritas, terutama yang berusia lanjut yang tidak dapat mengingat dengan jelas dan sulit mengekspresikan interaksi mereka dalam beberapa hari terakhir.
Rumah sakit di kota ini pun merasakan tekanan yang lebih besar karena jumlah infeksi terus meningkat, namun sumber daya medis masih dirasa cukup untuk menghadapi situasi saat ini. Rumah sakit darurat juga telah dibangun di Urumqi untuk merawat orang-orang yang telah melakukan kontak dekat dengan kasus yang dikonfirmasi, hal ini tentu bermanfaat untuk mencegah penularan virus dalam masyarakat.
Yang Zhanqiu (杨占秋) memperkirakan situasi di Xinjiang akan terkendali dalam satu hingga dua minggu. Ia menerangkan bahwa Tiongkok sekarang memiliki banyak pengalaman dalam menangani munculnya infeksi mendadak di beberapa tempat, serta pengujian massal yang sedang berlangsung di Xinjiang akan membantu menyaring kasus COVID-19 tanpa gejala. (*)
Advertisement