Mengubur Anak Dan Berbakti Kepada Ibu - Image from 趣历史
Jakarta, Bolong.id - Ada peribahasa Tiongkok: "Mengubur anak untuk berbakti kepada ibu." Dengan berbakti dan menghormati ibu, kemudian ada hadiah dari Tuhan, dibalas dengan emas.
Dilansir dari tansuola.com, peribahasa itu termasuk dalam kisah dua puluh empat berbakti. Kisah mengubur anak dan berbakti kepada ibu, sangat menyentuh.
Kisahnya, Guo Ju (郭巨) dari Dinasti Han Timur, dikisahkan hidup sangat miskin. Ia hidup pas-pasan bersama keluarga.
Suatu hari, jatah makanan keluarga tidak cukup untuk semua anggota keluarga. Lalu, ia bernegosiasi dengan istrinya untuk menguburkan putranya. Betujuan menggunakan jatah makan anaknya, bisa dimakan ibunya.
Kesalehan itu menyentuh dewa. Kesalehan Guo Ju (郭巨) untuk "mengubur anak dan berbakti kepada ibu", akhirnya dihargai dengan baik. Puteranya tidak dikuburkan, malah dia tiba-tiba mendapat sebotol emas.
Selama Dinasti Han Timur, Guo Ju (郭巨) yang berasal dari penduduk asli Linzhou, Anyang, Henan. Awalnya ia adalah putera dari keluarga kaya raya. Ia adalah generasi kedua dari keluarga kaya raya.
Namun, setelah kematian ayahnya, keluarganya mengalami keterpurukan. Bangkrut. Ketika membagi harta keluarga, Guo Ju (郭巨) yang baik hati membagi harta warisan ayahnya menjadi dua. Dan memberikan semuanya kepada kedua adiknya.
Karena tidak mendapat warisan, keluarga Guo Ju hidup miskin. Suatu hari, jatah makanan untuk keluarganya tidak cukup untuk makan semua anggota keluarga.
Lalu, Guo Ju mengatakan ke isteri, ia akan menguburkan anak mereka. Supaya jatah makan cukup untuk ibu Guo Ju.
Guo Ju (郭巨) berkata kepada istrinya, "Aku bisa memiliki anakku lagi, tapi ibuku tidak bisa hidup kembali jika dia meninggal. Lebih baik mengubur putra kita dan menghemat makanan untuk menghidupi ibuku."
Ternyata, luar biasa, sang isteri lagi-lagi setuju. Ikhlas.
Dilakukan penggalian tanah. Ketika mereka sedang menggali lubang di halaman belakang rumah, bersiap menguburkan anak mereka, tiba-tiba mereka melihat sebuah altar emas berkaki dua di bawah tanah, dan tertulis "Tuhan menganugerahkan Guo Ju (郭巨), pejabat tidak boleh mengambilnya, dan masyarakat tidak boleh merebutnya."
Guo Ju (郭巨) berdiskusi dengan istrinya, untuk mengambil emas tersebut. Dan, membatalkan niat menguburkan anak. Akhirnya mereka mendadak kaya. Semua anggota keluarga bisa makan.
Kesalehan berbakti Guo Ju (郭巨) terkenal di delapan kotapraja. Namun, hidup menjadi semakin sulit, kemudian istrinya melahirkan anak laki-laki lagi, dan jatah keluarga tidak dapat menghidupi begitu banyak orang.
Ternyata Tuhan melihat perbuatan berbakti Guo Ju (郭巨) dan istrinya, dan tidak tega melihat mereka untuk menguburkan anak mereka yang baru lahir, dan memutuskan untuk membantu mereka dengan emas.
Jadi, suami dan istri mendapatkan emas dan pulang untuk berbakti kepada ibu mereka. Sekaligus, mereka juga mampu menghidupi anak laki-laki yang mereka lahirkan.
Meskipun kisah "Mengubur Anak dan Berbakti kepada Ibu" menyentuh dunia, namun yang dilakukan tidaklah semua benar.
Baik untuk berbakti kepada ibu dengan sepenuh hati. Tapi itu tidak diperbolehkan untuk membunuh sebuah kehidupan dengan sia-sia.
Ada banyak cara untuk memecahkan kesulitan, tidak perlu mengambil jalan yang paling tidak menguntungkan. (*)
Advertisement