Lama Baca 3 Menit

Masjid Tan Kok Liong di Bogor Mirip Kelenteng

14 May 2022, 17:48 WIB

Masjid Tan Kok Liong di Bogor Mirip Kelenteng-Image-1

Masjid Tan Kok Liong - Gambar diambil dari Internet, jika ada keluhan hak cipta silakan hubungi kami.

Bogor, Bolong.id – Muhammad Ramdhan Efendi (nama lahir Tan Kok Liong) lebih dikenal sebagai Anton Medan. Di masa muda preman ditakuti di Jakarta. Kemudian insyaf, bahkan mendirikan Masjid Tan Kok Liong di Cibinong, Bogor. Ia meninggal 15 Maret 202.

Dilansir dari Idntimes.com, masjid Tan Kok Liong yang terletak di Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor merupakan salah satu masjid unik karena mirip dengan kelenteng. Arsitektur khas Tiongkok.

Masjid Tan Kok Liong terdiri dari empat lantai di mana hanya lantai satu dan dua yang dapat digunakan, sedangkan lantai tiga dan empat sengaja dikosongkan.

Masjid berukuran 16x20 meter yang dibangun di atas lahan seluas satu hektare ini termasuk dalam Komplek Pondok Pesantren At-Taibin. Lantai pertama merupakan sebuah aula untuk rapat pesantren dengan ukuran yang cukup luas, sedangkan lantai dua merupakan ruangan inti tempat melaksanakan kegiatan berjamaah.

Jika masjid pada umumnya meletakan kubah tepat di bagian atas, Masjid Tan Kok Liong meletakkan kubah di lantai dua tepat di lantai tempat ibadah berjamaah. Di lantai yang sama, terdapat tulisan 'Masjid Jami Tan Kok Liong' dengan bentuk tulisan menggunakan Bahasa Indonesia tapi bergaya Tiongkok.

Seperti masjid pada umumnya, pada bagian atas masjid, terdapat tulisan 'Allah' berbahasa Arab. Namun hal berbeda terdapat di setiap ujung atap masjid yang bertengger patung burung Rajawali, naga, dan lima ekor burung perkutut di ujung karpusan.

Arsitektur luar masjid ornamen-ornamen khas Tionghoa, mulai dari jendela hingga tembok masjid. Selain itu, terdapat juga beberapa lampion berwarna merah yang digantungkan di langit-langit luar masjid.

Papan nama masjid di bagian depan yang memiliki dasar warna hitam dan tulisan berwarna emas, bermakna latar belakang Anton Medan yang dahulu berkecimpung di dunia kriminal yang identik dengan dunia hitam sebelum akhirnya ia sampai pada titik terang dan memutuskan hijrah menjadi seorang mualaf. (*)