Vaksin Sinovac - Image from caixin.com
Jakarta, Bolong.id - Indonesia kedatangan vaksin dari perusahaan farmasi asal Tiongkok Sinovac Biotech Ltd. sebanyak 1,2 juta dosis pada Minggu (06/12). Selain Indonesia, vaksin Sinovac dikabarkan telah dipesan oleh banyak negara yang tidak ingin kehabisan stok vaksin.
Sebelumnya Sinovac telah berhasil dalam membuat vaksin di antaranya adalah vaksin hepatitis A dan B, influenza H5N1 (flu burung), influenza H1N1 (flu babi), vaksin gondok, dan vaksin rabies anjing.
Dilansir dari Kompas.com pada Sabtu (12/12/2020), berikut daftar negara yang menggunakan vaksin Sinovac untuk vaksinasi COVID-19.
Brasil
Brasil telah setuju untuk mengimpor vaksin Sinovac. Sama halnya Indonesia, negara itu juga menjadi salah satu tempat uji coba klinis fase III dengan bekerja sama dengan CoronaVac asal negara tersebut.
Pada pertengahan November 2020, Brasil telah menerima 120.000 dosis pertama Sinovac dan menunggu persetujuan dari regulator kesehatan nasional (Anvisa).
Turki
Kementerian Kesehatan Turki telah mengumumkan rencana penggunaan vaksin Sinovac akhir Desember 2020 di tengah lonjakan kasus infeksi dan kematian. Turki telah menyepakati 50 juta dosis vaksin Sinovac yang saat ini sedang dalam uji coba tahap akhir, dikutip dari AP News, 3 Desember 2020.
Menteri Kesehatan Fahrettin Koca mengatakan, otoritas penggunaan awal akan diberikan setelah laboratorium Turki mengonfirmasi bahwa vaksn itu aman. "Jika perkembangan terus berlanjut secara positif seperti yang kami harapkan, Turki akan menjadi salah satu negara pertama di dunia yang memulai vaksinasi pada fase awal," kata Koca.
Upaya vaksinasi akan dilakukan dalam empat tahap. Di antara kelompok pertama adalah tenaga medis dan warga berusia di atas 65 tahun.
Chili
Chili juga disebut telah sepakat untuk mengimpor vaksin buatan Tiongkok tersebut. Sama halnya dengan Indonesia, Brasil, dan Turki, negara itu menjadi salah satu lokasi uji klinis dari vaksin Sinovac. "Chili dapat dan harus berpartisipasi dalam studi klinis Fase III ini untuk menyetujui, mempelajari, dan mudah-mudahan memajukan pengembangan vaksin ini," Menteri Kesehatan Enrique Paris, dikutip dari Reuters, 1 Oktober 2020. (*)
Advertisement