RS Huoshenshan - Image from www.cnnindonesia.com
Keberhasilan Tiongkok dalam memerangi virus corona adalah suatu hal yang patut dicontoh dan diikuti oleh negara-negara terdampak lainnya.
Salah satu kunci keberhasilan dalam mengatasi pandemi itu adalah, Tiongkok tiada henti memberikan berbagai inovasi yang efektif dan efisien dalam membantu pencegahan dan pengobatan.
Berikut adalah berbagai inovasi canggih yang dilakukan Tiongkok dalam mengatasi covid-19 :
Pembangunan Rumah Sakit Hanya 10 Hari
Salah satu kunci dari keberhasilan Tiongkok dalam mengatasi wabah corona di wilayahnya adalah kecepatannya dalam membangun rumah sakit untuk merawat pasien yang terinfeksi virus corona.
Pemerintah Tiongkok menyelesaikan pembangunan rumah sakit pasien Corona, Huoshenshan yang khusus menangani pasien terjangkit virus corona. Pembangunan RS yang terletak di Wuhan, Tiongkok, itu hanya digarap selama sepuluh hari.
Pembangunan RS dalam waktu singkat juga pernah dilakukan oleh Tiongkok saat diserang wabah SARS pada tahun 2003. Tiongkok membangun Rumah sakit Xiaotangshan di Beijing khusus untuk pasien SARS hanya dalam waktu tujuh hari.
Dilansir dari China.org, RS Xiaotangshan yang digunakan untuk menangani pasien SARS tersebut dibangun kurang lebih oleh 7 ribu pekerja.
Ratusan alat berat juga dikerahkan di lokasi pembangunan rumah sakit. Sebanyak 1.300 petugas medis yang berasal dari militer Tiongkok dipersiapkan untuk bertugas disana.
Selama beroperasi, RS Xiaotangshan telah merawat sebanyak 680 pasien terinfeksi SARS. Dari jumlah itu, hanya delapan atau 1,18 persen pasien yang meninggal. Hebatnya, tidak ada petugas medis yang tertular SARS selama bertugas di RS tersebut.
Dengan pengalamannya tersebut, membuat Tiongkok tahu betul proses dan langkah pembangunan rumah sakit yang cepat dan juga efektif untuk menangani wabah.
Berikut adalah fakta-fakta terkait pembangunan rumah sakit di Tiongkok yang dibangun dalam waktu cepat.
Proses pembangunan rumah sakit - Image from www.merdeka.com
Tidak hanya 1 RS, Tiongkok buat 2 RS dengan waktu kurang dari 2 minggu
Rumah sakit pertama yang dibangun untuk menampung pasien virus corona adalah RS Huoshenshan. Namun tidak hanya itu, Tiongkok juga bangun rumah sakit lainnya yakni RS Leishenshan. Baik rumah sakit pertama dan kedua bisa selesai dalam waktu hanya 10 hari.
Dibangun di lahan seluas 25.000 - 30.000 meter persegi
Rumah Sakit Huoshenshan dibangun di atas lahan 25 ribu meter persegi. Luas rumah sakit ini kira-kira setengah dari luas Lapangan Banteng Jakarta.
Sedangkan Rumah Sakit Leishenshan dibangun diatas lahan 30.000 meter persegi. Setengah dari luas RS Huoshenshan, akan digunakan sebagai ruang isolasi. Selain itu juga menyediakan 30 unit ruang perawatan intensif.
Memiliki 1000-1600 tempat tidur
Rumah Sakit Huoshenshan memiliki 1.000 tempat tidur dan 1.400 petugas medis yang merupakan anggota dari Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (tentara Tiongkok).
Sedangkan Rumah Sakit Leishenshan bisa menampung sebanyak 1600 tempat tidur, lebih banyak dari prediksi awal yang hanya berkisar sekitar 1.300 kasur.
Melibatkan ribuan pekerja dan 800 alat berat
Pembangunan Rumah Sakit Huoshenshan melibatkan ribuan pekerja konstruksi. Selain itu, sebanyak 800 alat berat juga dikerahkan guna mempercepat pembangunannya.
Rumah sakit diisi fasilitas yang canggih
Fasilitas RS Huoshenshan dan RS Leishenshan dikabarkan sama dengan fasilitas yang ada di RS Xiaotangshan. Selain tempat tidur, kedua RS itu juga dilengkapi dengan ruang rontgen, unit perawatan intensif, hingga laboratorium, bahkan ada alat medis yang tersedia di tiap kamar.
Menghabiskan dana 587,5 Miliar
Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China (NDRC) dikabarkan mengeluarkan dana sebesar sekitar Rp587,5 miliar untuk membangun RS Huoshenshan dan RS Leishenshan. Selain digunakan untuk biaya pembangunan, dana tersebut juga digunakan untuk membeli peralatan medis penting.
Petugas medis tak perlu masuk kamar pasien
Rumah Sakit Huoshenshan memiliki sistem ventilasi khusus dan kabinet dua sisi yang menghubungkan kamar pasien ke lorong. Hal ini memungkinkan staf rumah sakit untuk mengirim pasokan tanpa memasuki kamar pasien.
Mendatangkan para ahli konstruksi
Yanzhong Huang, peneliti kesehatan global di Dewan Hubungan Luar Negeri menyampaikan para ahli konstruksi didatangkan dari seluruh negeri untuk membangun rumah sakit tersebut.
"Pekerjaan konstruksi adalah keahlian China. Mereka punya catatan membangun gedung pencakar langit dengan cepat. Cara ini sulit dibayangkan oleh orang-orang Barat. Tapi itu bisa dilakukan," kata Huang, kepada BBC.
Dilengkapi dengan robot medis
Rumah Sakit Huoshenshan juga menyediakan robot medis dari sebuah perusahaan Cina untuk digunakan dalam memberikan obat-obatan serta membawa sampel uji.
Dibangun dengan bahan prefabrikasi
RS Huoshenshan dibangun dengan bahan prefabrikasi. Prefabrikasi artinya bahan bangunan ini sudah dibuat sebelumnya di pabrik.
Jadi panel-panel dinding, jendela, hingga atap sudah dibuat sebelumnya sehingga tinggal dirakit di lokasi pembangunan. Hal ini sangat mungkin dilakukan oleh Tiongkok karena mereka memiliki banyak ahli bangunan.
Dilansir dari Quartz, rumah sakit yang di bangun dengan bahan prefabrikasi aman untuk dijadikan tempat pasien virus Corona. Akan tetapi, RS dengan bahan tersebut tidak dapat bertahan lama.
Pendiri perusahaan teknik Jerman Knippers Helbig, Thorsten Helbig mengatakan bahan blok modular prefabrikasi yang digunakan untuk membangun rumah sakit tersebut, sebelumnya telah dirakit di pabrik.
"Anda pasti dapat membuat bangunan prefab(rikasi) terdengar bagus secara struktural," katanya.
Urusan lahan diselesaikan dengan cepat
Sebelum memulai pembangunan, pasti setiap orang akan memilih lahannya terlebih dahulu. Jika di negara lain, hal ini bisa jadi PR tersendiri yang cukup berat. Sebab negara lain harus berurusan dengan proses pemindahan kepemilikan atau pembebasan lahan. Namun berbeda halnya dengan Tiongkok.
Tom Fowdy, pengamat hubungan internasional dari Universitas Oxford, mengatakan, berkat sistem pemerintahan komunis yang dianut Tiongkok, seluruh tanah di negara itu adalah lahan yang disewakan negara kepada rakyatnya.
Sehingga, dalam situasi darurat lahan kosong bisa digunakan dengan segera tanpa perlu proses perizinan. Perintah langsung datang dari pusat, yang harus diikuti oleh pemerintah daerah. Hal ini didukung dengan birokrasi yang singkat jadi tidak perlu bertele-tele berkonsultasi atau mengurus surat menyurat.
Penelitian Ilmuwan Terhadap Virus Corona
Selain kecepatan dalam membangun rumah sakit, Tiongkok juga memberikan keleluasaan bagi para ilmuwan untuk melakukan penelitian terhadap virus corona. Alhasil, dari keterbukaan tersebut, banyak hasil-hasil penelitian yang bermunculan. Hal ini menjadi pijakan membuat kebijakan serta membuat vaksin Covid-19.
Berikut ini adalah hasil penelitian yang didapatkan oleh para ilmuwan Tiongkok yang sangat bermanfaat dalam mengatasi wabah corona :
Ilmuwan Tiongkok ungkap anak-anak juga berpotensi tertular corona
Para ilmuwan di Kota Shenzen, Tiongkok Selatan, menganalisa sebanyak 365 pasien virus corona di kota mereka dan menunjukkan proporsi anak-anak yang terinfeksi virus melonjak tinggi.
Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), anak-anak memiliki potensi penularan virus corona yang sama seperti halnya orang dewasa.
Dari penelitian tersebut diketahui sebanyak 2 persennya terdiri dari anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Adapun data tersebut menurut kasus virus corona sebelum 24 Januari 2020.
Setelah itu, proporsi anak-anak meningkat tajam menjadi 15 persen pada 25 Januari-5 Februari 2020. Menurut peneliti, temuan tersebut mengindikasi bahwa dengan lebih banyak pasien yang terpapar virus, maka risiko anak-anak terinfeksi secara substansial dapat meningkat.
Selain itu, salah satu faktor utama penularan virus corona yakni dalam lingkungan keluarga. Hasil studi tersebut disampaikan oleh peneliti dari dua rumah sakit Shenzhen dan Universitas Sains dan Teknologi Selatan, diterbitkan di jurnal Emerging Infectious Disease pada Rabu (4/3/2020).
Ilmuwan Tiongkok ungkap kera kebal virus corona setelah dinyatakan sembuh
Ilmuwan Tiongkok optimis perihal vaksin virus corona (Covid-19), setelah menemukan kera yang terinfeksi virus corona baru kebal terhadap penyakit tersebut setelah dinyatakan sembuh.
Dikutip dari Sputnik News, Ilmuwan dari Akademi Ilmu Kedokteran Tiongkok menemukan empat ekor kera yang terinfeksi virus corona.
Kera-kera ini mengalami demam, gangguan pernapasan serta kehilangan nafsu makan. Penyakit akibat virus ini bisa dirasakan dalam tiga hari setelah infeksi, namun bisa tidak terdeteksi dalam 14 hari.
Setelah dua bulan, dua ekor kera yang sembuh terinfeksi kembali dari mulutnya. Peneliti menemukan suhu tubuhnya meningkat sedikit setelah infeksi namun itu jadi satu-satunya gejala yang terlihat.
Sekitar dua pekan kemudian, kera mengalami peningkatan antibodi penyakit tersebut, hal ini menandakan sistem kekebalannya siap melawan virus itu.
Menurut Qin Chuan yang memimpin penelitian, hasilnya memiliki implikasi penting dalam evaluasi pengembangan vaksin, seperti yang dilansir dari South China Morning Post.
Ilmuwan Tiongkok ungkap pasien virus corona yang sembuh memiliki antibodi kuat
Profesor Zhong Nanshan, ilmuwan yang memiliki jabatan tinggi dalam pemerintahan Tiongkok, pernah mengungkapkan pasien virus corona ditemukan memiliki antibodi tingkat tinggi untuk melawan virus penyakit sehingga akan mencegah mereka menyebarkan virus dan menginfeksi orang lain.
"Sekarang pertanyaan yang semua orang pedulikan adalah apakah kontak dekat dan anggota keluarga mungkin terinfeksi karena (pasien) dites positif lagi. Sejauh ini saya belum melihat bukti," kata Zhong.
Namun, pemerintah Tiongkok mengambil antisipasi dengan menerapkan langkah-langkah untuk mencegah infeksi tambahan dari pasien yang tampaknya telah pulih.
Pemerintah pada 5 Maret menyatakan bahwa setiap pasien virus corona yang dikeluarkan dari rumah sakit harus tetap berada di fasilitas karantina selama 14 hari
Chein Wei temukan vaksin Covid-19
Seorang militer bernama Chen Wei adalah perempuan yang berperan besar di balik penemuan vaksin Covid-19.
Bagi Chen Wei, ahli epidemiologi dan virologi militer Tiongkok, pertempuran ilmiah melawan epidemi harus dilakukan bahkan sebelum patogen lahir.
"Pencegahan dan pengendalian satu epidemi tidak pernah bisa menunggu sampai penyakit itu menyerang," kata Chen kepada China Science Daily.
Melansir South China Morning Post, Chen Wei adalah anggota Tentara Rakyat Tiongkok berpangkat mayor jenderal. Wanita berusia 54 tahun itu adalah ahli biokimia paling terkenal di Tiongkok.
Ia menginisiasi terlaksananya penelitian mengenai virus yang menjangkiti puluhan ribu orang di kota Wuhan Provinsi Hubei.
Stasiun televisi di Tiongkok, CCTV, melaporkan vaksin yang dikembangkan oleh Chen beserta timnya dan perusahaan vaksin CanSin Biologist adalah jenis yang paling mendekati sempurna diantara sembilan sampel vaksin lain yang juga tengah dikembangkan oleh para ilmuwan Tiongkok.
Chen mengembangkan vaksin rekombinan dengan menggunakan virus atau bakteri yang tidak berbahaya, kemudian menyatukannya dengan materi genetik patogen ke dalam tubuh untuk membangun kekebalan.
Terkait penemuan vaksin Covid-19 tersebut, Pemerintah Tiongkok telah memberikan izin pada para peneliti untuk memulai uji coba vaksin virus corona pada manusia untuk mengembangkan pengobatan covid-19.
Ilustrasi rapid test - Image from www.kompas.com
Pembuatan Alat Tes Canggih
Rapid Test
Prof Wei Huang, salah satu pimpinan dari peneliti di Departemen Ilmu Teknik Universitas Oxford dan Pusat Penelitian Lanjut Oxford (OSCAR), mengungkapkan kalau rapid test adalah metode tes baru yang dapat mendeteksi virus secara khusus dari pengenalan fragmen RNA dan RNA Covid-19.
Penggunaan rapid test ini memiliki pemeriksaan bawaan yang mengurangi risiko munculnya hasil tes yang salah. Rapid test juga dikenal memiliki akurasi yang tinggi dibanding dengan tes virus corona sebelumnya.
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa rapid test ini bekerja dengan cepat dan tidak memerlukan instrumen yang rumit.
Kalau sebelumnya, untuk mengetahui hasil positif atau negatif dari pasien membutuhkan waktu selama 90-120 menit bahkan sehari atau lebih, rapid test ini mampu memberikan hasil hanya dalam setengah jam saja.
Alat Uji Swab yang Aman dari Infeksi Corona
Dua perawat dari Rumah Sakit Universitas Kedokteran Shanxi, Cina, menciptakan alat pembantu uji swab pada pasien yang diduga terpapar virus corona, sehingga tidak membahayakan tim medis.
Alat pelindung untuk pengambilan sampel usap tenggorokan itu terbuat dari polipropilena transparan dengan panjang 14 cm dan lebar 13 cm, memiliki lubang dengan diameter 8 mm agar alat usap dapat melewatinya.
Disisi pasien adalah spatula lidah dengan panjang 7 cm dan lebar sekitar 1 cm, yang sesuai untuk kebanyakan orang.
Dengan tangan kiri memegang pelindung plastik transparan yang menutupi mulut pasien, dan tangan kanan menempelkan sebuah alat usap (swab) melalui pelindung ke dalam mulut pasien, seorang perawat di rumah sakit Wuhan berhasil mengumpulkan sampel usap tenggorokan dalam waktu singkat, yakni hanya dalam waktu 20 detik.
Perangkat pelindung untuk pengambilan sampel usap tenggorokan yang dicetak printer 3D, efektif mencegah penularan infeksi melalui tetesan kecil (droplet). Alat ini diciptakan oleh dua perawat Li Yaqin dan Pan Bo, yang terinspirasi dari praktik sehari-hari dalam melayani uji asam nukleat (nucleid acid test/NAT) virus COVID-19.
Negara maju seperti Tiongkok memang tidak diragukan lagi dalam hal teknologinya.
Advertisement