India-Tiongkok - Image from gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami
Jakarta, Bolong.id - Ketegangan di antara Tiongkok dan India semakin memanas, bahkan memicu peningkatan jumlah pasukan dan senjata di perbatasan kedua negara tersebut, dilansir dari South China Morning Post pada hari Kamis (04/06/2020). Dikabarkan oleh media Hong Kong, sembari terus menguji senjata canggih mereka, Tentara Pembebasan Rakyat (中国人民解放军) juga telah mengirimkan jet tempurnya ke dataran tinggi Tibet yang berbatasan langsung dengan India.
Melalui laporan dari satelit, pangkalan udara di wilayah tersebut sudah diperluas secara khusus untuk memarkirkan J-16, pesawat pembawa bom baru milik Tiongkok. Selain itu, Tentara Pembebasan Rakyat (中国人民解放军) juga memperluas arsenalnya dengan mengirimkan senjata seperti tank Tipe-15, helikopter Z-20, pesawat serang GJ-2, dan howitzer canggih ke dataran tinggi Tibet. Liang Guoliang, ahli militer yang berbasis di Hong Kong juga menyatakan bahwa Beijing telah mengerahkan setidaknya sembilan brigade senjata gabungan ke Tibet. Dilansir dari laman portal CCTV pada hari Senin (01/06/2020), dalam beberapa hari terakhir unit pengintai Tentara Pembebasan Rakyat (中国人民解放军) juga telah memobilisasi target mereka di Pegunungan Tanggula, pada ketinggian 4.700 meter, menggunakan perangkat penglihatan malam pada kendaraan mereka untuk menghindari pengawasan drone.
Di sisi lain, India juga mengerahkan lebih banyak lagi pesawat ke perbatasan, sekaligus memindahkan beberapa batalion dari divisi infanteri yang biasanya bermarkas di kota Ladakh, ke daerah siaga operasional di sepanjang perbatasan. Pesawat yang dikerahkan India itu adalah Sukhoi Su-30MKI, pesawat buatan Rusia yang menjadi senjata andalan Angkatan Udara India.
Konflik perbatasan Tiongkok-India telah berlangsung sejak tahun 2017, ketika pasukan India dan Tentara Pembebasan Rakyat (中国人民解放军) melakukan konfrontasi soal pembangunan jalan di Doklam, dekat daerah perbatasan tiga persimpangan yang dikenal sebagai Donglang. Konflik ini berlangsung hingga sebulan terakhir ini, setelah pasukan dari kedua negara saling lempar batu di lembah Sungai Galwan, antara Ladeks di Kashmir yang dikelola India dan Aksai Chin, yang dikelola oleh pihak Tiongkok. Menurut mantan pejabat militer India, pembangunan jalan dan jalur udara oleh India adalah penyebab konflik kedua negara ini memanas lagi. Selain karena pembangunan jalan merupakan fokus Perdana Menteri India, Narendra Modi, pembangunan infrastruktur yang dilakukan India di sepanjang line of actual control (LAC) menurut Tiongkok adalah hal yang berbahaya. Terutama untuk kawasan Aksai Chin milik Tiongkok, yakni provinsi Xinjiang dan Tibet.
Dikutip dari Hindustan Times, pada akhir bulan Mei 2020 lalu, setelah rapat dengan PM Modi, pejabat senior India mengeluarkan komentar keras pada Tiongkok. "Dari Australia ke Hong Kong, ke Taiwan ke Laut Tiongkok Selatan, ke India dan sampai ke AS, Tiongkok yang menatap dunia sambil mendominasi mereka dengan segala cara," ungkapnya. Komentarnya tersebut seolah-olah menggambarkan bahwa Tiongkok memiliki sikap mendominasi di mana-mana. Sampai sejauh ini, belum ada komentar lebih lanjut dari Tiongkok, namun dalam suatu kesempatan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok sempat mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menjaga keamanan kedaulatan teritorial nasionalnya serta perdamaian dan stabilitas di kawasan perbatasan Tiongkok-India.
Advertisement