Hua Chunying - Image from gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami
Beijing, Bolong.id - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying (华春莹) meminta salah seorang Senator Amerika Serikat (AS), Scott yang menyatakan, jika Tiongkok memiliki rencana untuk menghancurkan atau menunda pengembangan vaksin virus corona di negara-negara Barat agar membuktikan tuduhannya. "Silahkan dibuktikan tuduhan tersebut dan tidak perlu malu," ujar Hua Chunying (华春莹), saat menggelar konferensi pers pada Senin (8/6/20) kemarin.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam wawancara yang dilakukan pada pekan lalu, Scott mengklaim bahwa Tiongkok tidak ingin Amerika Serikat (AS) mengembangkan vaksin COVID-19 terlebih dahulu dan tidak akan memberikan vaksin yang telah dikembangkan selama ini. Namun, saat diminta untuk menunjukkan bukti, Scott berkilah dan mengaku jika bukti diperoleh dari komunitas intelijen.
Menanggapi hal ini, Hua Chunying (华春莹) mengatakan, jika Scott harus membuktikan ucapannya, sebab selama ini AS telah begitu banyak mengarang berbagai tuduhan palsu, desas-desus, dan pencemaran nama baik terhadap Tiongkok. Hua juga mempertanyakan, apakah ada batasan hukum atas tuduhan palsu di AS terhadap seseorang ataupun negara tertentu.
Hua Chunying (华春莹) juga menegaskan, penelitian dan pengembangan vaksin virus corona bukanlah pertempuran antara Tiongkok dan AS, tetapi pertempuran antara manusia dan virus. "Negara mana pun yang mencoba melakukan pengembangan vaksin virus ini adalah negara yang ikut berkontribusi dalam memerangi pandemi yang menyerang manusia di seluruh dunia," sebut Hua, seraya berharap jika Amerika juga dapat segera berkomitmen mengembangkan vaksin yang kelak dapat dibagikan kepada negara-negara yang membutuhkan.
Sebelumnya, Presiden Xi Jinping (习近平) telah berjanji di Majelis Kesehatan Dunia ke-73 bahwa setelah selesainya pengembangan vaksin virus corona di Tiongkok, vaksin tersebut akan menjadi produk global sebagai bentuk kontribusi Tiongkok pada ketersediaan dan keterjangkauan vaksin di negara-negara berkembang.*
Advertisement