Xi Jinping dan Trump - Image from gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami
Jakarta, Bolong.id - Konflik Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok memang tidak ada habisnya. Kedua belah pihak, yang baru saja berdialog pada Rabu (17/6/2020) lalu, justru makin memanas dengan keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang bersikukuh ingin memutus hubungan antara kedua negara tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Trump, setelah Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer, berbicara di Kongres AS, yang menyatakan bahwa Tiongkok sejauh ini telah memenuhi perjanjian “fase satu” dagang yang telah diselenggarakan pada bulan Januari 2020 lalu. Trump mengatakan, AS akan mempertahankan opsi kebijakan “decoupling” atau pemisahan ekonomi negara, seperti dilansir dari CNBC Indonesia. "Itu bukan kesalahan Lighthizer (kemarin di Komite), mungkin karena saya tidak menjelaskan jadinya rancu," ujar Presiden AS itu, dikutip dari Reuters oleh Republika, Jumat (19/6/2020).
Pada saat virus corona menghantam AS hingga punya kasus terbanyak, Trump malah menyalahkan Tiongkok dan mengaku tidak tertarik lagi untuk berbicara dengan Xi Jinping, dan ingin memutuskan hubungan mereka pada bulan Mei 2020 lalu. Ia juga meminta stafnya untuk merencanakan pemindahan manufaktur AS dari Tiongkok. AS juga telah membuat UU yang isinya mendepak perusahaan-perusahaan Tiongkok dari Wall Street.
Dalam pertemuan tertutup pada hari Rabu (17/6/2020) di Hawaii, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dengan Yang Jiechi (杨洁篪) telah berkomitmen untuk kembali meningkatkan pembelian barang AS. Walau begitu, AS inginkan adanya “balasan yang lebih baik” dari Tiongkok. David Stilwell, salah satu diplomat AS, mengatakan hal ini juga termasuk bentuk perilaku agresif Tiongkok, yang harus dikurang-kurangi. “Apabila mereka datang dengan pengajuan yang masuk akal, AS jelas akan memperlakukan mereka dengan baik dan mencari cara untuk berjalan menuju hasil yang lebih baik,” tuturnya.
Advertisement