Lama Baca 3 Menit

Keras ! China Tantang Wakil PM Jepang Minum Limbah PLTN

15 April 2021, 17:03 WIB


Keras ! China Tantang Wakil PM Jepang Minum Limbah PLTN-Image-1

PLTN Fukushima - Image from Berbagai sumber

Bolong.id - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menantang Menteri Keuangan Jepang Taro Aso untuk meminum air limbah PLTN Fukushima. Pernyataan keras itu dilontarkan Lijian pada Rabu (14/4/2021) setelah Aso mengatakan bahwa air limbah PLTN Fukushima yang akan dibuang ke laut aman untuk dikonsumsi. 

Seorang pejabat Jepang mengatakan tidak apa-apa jika kita minum air (limbah PLTN Fukushima) ini, jadi silakan diminum," kata Zhao sebagaimana dilansir The Washington Post. Sebelumnya, pada Selasa (13/4/2021), pemerintah Jepang memutuskan untuk melepaskan air limbah PLTN Fukushima ke laut dari pabrik dalam dua tahun. Setelah itu, dalam konferensi pers pada Selasa, Aso mengatakan bahwa air limbah PLTN tersebut telah diolah sedemikian rupa sehingga tidak apa-apa jika diminum. "Saya telah mendengar bahwa kita tidak akan kena apa-apa jika kita minum (air limbah PLTN Fukushima),” kaya Aso sebagaimana dilansir The Japan Times. 

Di sisi lain, Zhao menyindir bahwa Jepang harusnya berkaca pada penyakit Minamata sebelum akhirnya memutuskan untuk membuang air limbah PLTN Fukushima ke laut. Penyakit Minamata muncul pada akhir 1950-an yang disebabkan air yang tercemar merkuri yang dibuang ke laut oleh pabrik kimia Chisso Corp di kota pesisir Minamata, Prefektur Kumamoto. Penyakit tersebut melumpuhkan sistem saraf pusat manusia dan memicu cacat lahir. Penduduk setempat mengalami gejala aneh seperti gemetar, kejang, kesulitan berjalan, berkurangnya pendengaran, kelumpuhan, hingga kematian.  

Dengan memperhatikan kecelakaan nuklir Fukushima sebagai salah satu kecelakaan yang paling serius di dunia, menurut Zhao, kebocoran radioaktif telah berdampak besar terhadap lingkungan, keamanan pangan, dan kesehatan manusia. Ia menekankan pentingnya pembuangan limbah nuklir secara tepat, karena berkaitan dengan kepentingan masyarakat internasional dan kepentingan utama negara-negara tetangga. 

"Hal ini seharusnya ditangani secara tepat dan hati-hati guna menghindari kerusakan lingkungan bahari, keamanan pangan, dan kesehatan manusia," ujarnya. 

Menurut dia, dunia sangat perhatian terhadap rencana Jepang tersebut, sehingga menimbulkan pertentangan. Bahkan, pertentangan juga terjadi di dalam negeri Jepang sendiri. 

"Pihak Jepang harus bertanggung jawab atas kepentingan masyarakat internasional dan kepentingan masyarakatnya sendiri," kata Zhao dalam pernyataan tertulisnya. (*)


Informasi Seputar Tiongkok