Orang-orang menggunakan masker - Image from Kompas.com
Bolong.id - Para peneliti menemukan dalam tinjauan data nasional di Qatar bahwa vaksin sebelumnya hanya 56% melindungi tubuh terhadap infeksi ulang Omicron.
Dibanding menghadapi varian sebelumnya, data baru menunjukkan bahwa respon imun dalam melindungi tubuh terhadap varian Omicron lebih lemah.
Dilansir dari CGTN pada Rabu (16/2/2022), para peneliti melaporkan pada The New England Journal of Medicine bahwa seseorang yang pernah terjangkit COVID-19 berarti 90,2% efektif melawan reinfeksi varian Alpha, 85,7% efektif melawan reinfeksi varian Beta, dan 92% efektif melawan reinfeksi Omicron.
Kemanjuran vaksin juga menurun dalam menghadapi varian Omicron. Perlindungan yang diberikan oleh suntikan booster vaksin mRNA dari Moderna Inc. atau Pfizer Inc. dan mitra BioNTech SE mulai berkurang dengan cepat, menurut data yang diterbitkan dalam Morbidity and Mortality Weekly Report dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) hari Jumat minggu lalu.
Para peneliti melaporkan bahwa dalam waktu dua bulan setelah dosis kedua vaksin mRNA selama lonjakan infeksi yang disebabkan oleh varian virus Delta, kemanjuran vaksin adalah 94% pada pasien gejala ringan dan 92% pada pasien gejala berat.
Kemanjuran berkurang setelahnya, tetapi masing-masing naik menjadi 96% dan 97%, pada dua bulan setelah suntikan booster.
Namun setelah empat bulan kemudian, perlindungan itu turun menjadi 76% dan 89%.
Setelah Omicron menjadi dominan, kemanjuran vaksin menjadi 71% terhadap gejala ringan dan 69% terhadap gejala berat dalam dua bulan setelah dosis kedua. Menjadi 91% dan 87% dua bulan setelah booster, dan 78% dan 66% empat bulan kemudian.
Data diambil dari beberapa sampel sebanyak 241.204 gejala berat dan 93.408 gejala ringan antara bulan Agustus hingga Januari.
"Temuan ini menunjukkan bahwa dosis tambahan [vaksin] mungkin diperlukan," kata Brian Dixon dari Institut Regenstrief dan Universitas Indiana.(*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement