Ilustrasi Peribahasa 未雨绸缪 - Image from internet
Bolong.id - Peribahasa 未雨绸缪 (wèiyǔ chóumóu). Di sini, (wèiyǔ) berarti sebelum hujan. (wèi) biasanya mengacu pada sesuatu di masa depan, yaitu sesuatu yang belum terjadi, jadi dalam hal ini hujan. (chóumóu) artinya mengikat sesuatu dengan sutra.
Ini merupakan metofora yang berarti mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk sebelum bekerja atau melakukan sesuatu agar tidak terjadi kecelakaan. Peribahasa ini berasal dari dari《诗经·豳风·鸱鸮》Shi Jing, Bin Feng, Chi Xiao yaitu sebuah Kitab Lagu/Puisi · Bin Feng · Burung Hantu".
Peribahasa ini memiliki arti yang sama denga peribahasa Indonesia "Sedia payung sebelum hujan" yang berarti kita sudah siap untuk apapun yang terjadi nanti. Walaupun belum tentu hujan, tetap membawa payung untuk berjaga-jaga.
Cerita asal peribahasa:
Pada 1046 SM, Raja Wu dari Zhou menghancurkan Dinasti Shang. Untuk menenangkan orang-orang yang selamat dari Dinasti Shang, dia menjadikan Wu Geng, putra Raja Zhou (Raja Dinasti Shang), sebagai Pangeran Adipati di Chaoge (Ibukota Dinasti Shang). Pada saat yang sama, dia menjadikan ketiga adiknya sendiri penguasa di Guan Shu, Cai Shu dan Huo Shu di Timur, Barat dan utara Wu Geng, untuk mengawasinya.
Dua tahun kemudian, Raja Wu sakit parah, dan para menteri sangat cemas. Adipati Zhou melakukan pengorbanan khusus kepada leluhur Dinasti Zhou dan menyatakan kesediaannya untuk mati atas nama saudaranya. Mohon berkati Raja Wu untuk memulihkan kesehatannya. Setelah pengorbanan, Adipati Zhou menyegel pesan di ruang batu dan dengan tegas memerintahkan sejarawan untuk tidak membocorkan rahasianya.
Kebetulan sehari setelah Adipati Zhou berdoa, penyakit Raja Wu mulai membaik. Adipati Zhou dan menteri lainnya sangat senang. Namun segera, pekerjaan yang berlebihan membuat Raja Wu kambuh dan meninggal. Putra mahkota Ji Song dinobatkan sebagai raja, yang dikenal sebagai raja Cheng dari Zhou dalam sejarah Tiongkok, dan Adipati Zhou diangkat menjadi Bupati oleh Raja Wu.
Tidak ingin melihat runtuhnya Dinasti Shang, Wu Geng melihat bahwa ada kontradiksi antara saudara-saudara Zhou, jadi dia mengirim seseorang untuk menghubungi paman Guan dan yang lainnya untuk memprovokasi hubungan mereka dengan Adipati Zhou, dan secara aktif bersiap untuk memulai pemberontakan.
Setelah dua tahun penyelidikan, Adipati Zhou akhirnya menemukan sumber rumor dan tahu bahwa Wu Geng siap memberontak. Dia sangat cemas, jadi dia menulis puisi berjudul burung hantu untuk Raja Cheng. Gagasan utama puisi itu adalah: burung hantu, burung hantu, kamu telah mengambil anakku. Jangan hancurkan sarangku lagi! Sebelum hujan, saya akan mengupas kulit sanggen dan memperbaiki pintu dan jendela. Tanganku mati rasa, mulutku haus, dan bulu-buluku rontok, tapi sarangku masih bergetar diterpa angin dan hujan!
Dengan nada seperti induk burung, puisi ini mencerminkan keprihatinan mendalam sang Adipati terhadap urusan negara, tetapi raja muda Cheng gagal memahami kesulitan sang Adipati dan justru termakan oleh rumor. Kemudian, Raja Cheng secara tidak sengaja menemukan pidato Adipati Zhou di kamar batu. Raja Cheng sangat tersentuh, dia segera mengirim seseorang untuk mengundang Adipati Zhou kembali ke Beijing.
Setelah Adipati Zhou kembali ke Beijing, Raja Cheng mengirim paman ketiganya yaitu Guan dan Wu Geng yang telah membuar rumor, untuk militer dan pergi berperang sebagai hukuman. Adipati Zhou memiliki banyak akal dan segera memadamkan pemberontakan, dan kekuasaan Dinasti Zhou berhasil dipertahankan.
Belakangan, orang menggunakan idiom "bersiap untuk hari hujan" untuk merujuk pada persiapan sebelumnya.
Dari puisi burung hantu tersebut didapatkan peribahasa 未雨绸缪, karena di dalam puisi tersebut diceritakan bagaimana seekor burung hantu mempersiapkan diri untuk hujan badai walaupun dia tau sarangnya akan tetap bergetar seandainya badai besar datang, namun ia tetap berusaha sekuat tenaganya untuk melindungi sarangnya. (*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement