Lama Baca 4 Menit

Dialog Panas China-AS di Alaska

20 March 2021, 12:04 WIB

Dialog Panas China-AS di Alaska-Image-1

Dialog AS-China - Image from detik


Alaska, Bolong.id - Pihak Tiongkok-AS pada Kamis (18/3) melakukan pertemuan Dialog Strategis Tingkat Tinggi di Anchorage, Alaska. Saat pembukaan di mulai kedua pihak langsung melontarkan dialog panas yang berakitan dengan permasalahan kedua negara.

Pertemuan itu dihadiri oleh Direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri Pusat, Yang Jiechi serta Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri, Wang Yi, mengadakan pertemuan Sino-AS di Anchorage dengan Meneteri Luar Negeri AS Tony Blinken dan Asisten Presiden untuk Urusan Keamanan Nasional Dan Sullivan untuk Dialog strategis tingkat tinggi.

Kedua belah pihak melakukan total tiga dialog dalam dua hari. Pada hari Kamis, suasana dialog cukup tegang di awal dialog. Kedua belah pihak menunjukkan permasalahan yang sangat besar antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Awalnya ditetapkan bahwa pidato pembukaan masing-masing dua menit, tetapi pemimpin Tiongkok Yang Jiechi berbicara selama 17 menit.

Agence France-Presse berkomentar bahwa kedua belah pihak saling berhadapan, menunjukkan tingkat keganasan yang jarang ditemukan dalam dialog. Dilansir dari RFI pada Jumat (19/3/2021).

Blinken juga mengatakan pihaknya akan membahas serangan siber terhadap AS dan "pemaksaan ekonomi terhadap sekutu kami." Dia bahkan menganggap Tiongkok sebagai ancaman stabilitas global.

"Setiap tindakan ini mengancam tatanan berbasis aturan yang bertujuan menjaga stabilitas global," kata Blinken.

Tidak tinggal diam, salah satu diplomat ternama Tiongkok, Yang Jiechi, menanggapi pernyataan Blinken dengan pidato 15 menit. Dalam bahasa mandarin, Yang mengecam dorongan AS terkait demokratisasi di dunia. Padahal, menurutnya, AS sendiri tengah berjuang mempertahankan sebagai negara demokratis.

Yang juga menyinggung bahwa AS memiliki catatan perlakuan buruk terhadap etnis minoritas. Ia juga mengkritik kebijakan luar negeri dan perdagangan Negeri Paman Sam.

"Amerika Serikat menggunakan kekuatan militer dan hegemoni keuangannya untuk menjalankan yurisdiksi lengan panjang dan menekan negara lain," kata Yang.

"Itu menyalahgunakan apa yang disebut gagasan keamanan nasional untuk menghalangi transaksi perdagangan normal, dan menghasut beberapa negara untuk menyerang Tiongkok," tambahnya.

Sepanjang pidato Yang, Penasihat Keamanan Nasional Biden, Sullivan, terus bertukar catatan dengan pejabat AS lainnya yang ikut dalam pertemuan itu. Blinken bahkan sempat menahan wartawan di ruang pertemuan agar bisa memberi tanggapan terhadap pidato Yang.

Padahal, dalam pertemuan tinggi pada umumnya wartawan hanya diizinkan meliput sambutan awal dari masing-masing perwakilan delegasi. Pada akhirnya, delegasi AS-Tiongkok saling bertengkar tentang kapan media akan diantar keluar ruangan.

Tak lama, delegasi AS menuduh Tiongkok sombong, sementara jurnalis Negeri Tirai Bambu menuduh delegasi Washington D.C berbicara terlalu lama dan "tidak ramah".

Kedua belah pihak menuduh satu sama lain melanggar protokol diplomatik dengan berbicara terlalu lama dalam sambutan pembukaan. (*)