Proses penimbangan kedelai - Image from foto.kontan.co.id
Jakarta, Bolong.id - Selama tahun 2021, Tiongkok memecahkan rekor impor jagung. Impor jagung Tiongkok pada tahun 2021 meningkat 152% menjadi 28,35 juta ton, dibandingkan tahun 2020 yang hanya 11,3 juta ton.
Dilansir dari Reuters (18/1/2022), lonjakan juga terjadi pada impor gandum sebanyak 16,6% dari tahun 2020. Tiongkok yang hanya mengimpor 8,38 juta ton, kini menjadi 9,77 juta ton gandum.
Tiongkok sendiri berencana mengimpor gandum lagi sebanyak 20 juta ton dan 102 juta ton kedelai. Impor diharapkan bisa mengisi kesenjangan dari pasokan domestik.
Sementara, jagung dan gandum adalah komoditas penting untuk pangan dan pakan bagi Indonesia. Apalagi, Indonesia bergantung penuh pada gandum impor.
Dikabarkan, Tiongkok sendiri sudah mengantisipasi terjadinya lonjakan harga jagung impor untuk tahun 2021/2022.
Tiongkok merevisi harga sasaran jagung impor jadi lebih tinggi, disebabkan oleh potensi penurunan produksi sejumlah negara pemasok.
Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan Tiongkok menyebutkan, kemungkinan, petani di AS lebih memilih menanam kedelai dibandingkan jagung, menyusul melonjaknya harga pupuk. Di sisi lain, produksi jagung di Brasil terganggu akibat kekeringan.
Tingginya permintaan Tiongkok akan memperketat persaingan di pasar global saat pasokan terbatas. Akibatnya, harga akan melonjak dan sulit turun.
Situs tradingeconomics mencatat, harga jagung pada perdagangan 21 Februari 2021 menguat tembus US$6,5 per bushel, harga tertinggi dalam 7 bulan terakhir.
Lonjakan harga jagung global tentu akan berdampak pada harga jagung di Tanah Air, yang memicu kenaikan harga pakan ternak.
Pasalnya, terjadi persaingan pembelian di pasar, di tengah ketatnya pasokan. Ditambah lagi, tensi geopolitik Rusia dan Ukraina.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto B Utomo pada Rabu (09/02/2022) mengatakan "Sepertinya ada anomali yang sama seperti tahun 2021. Panen tapi malah berebut, (harga jagung) jadi naik."
Ia juga menjelaskan bahwa anomali itu bukan dipicu permintaan yang melonjak tiba-tiba pasca-pelonggaran lockdown di sejumlah negara, namun, kemungkinan akibat efek domino gangguan cuaca di negara produsen jagung dunia.
Sementara Sekretaris Jenderal Gabungan Asosiasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi menambahkan, terjadi kenaikan harga sarana produksi ternak (sapronak).
"Sejak tengah tahun 2021, harga sapronak itu sudah naik sekitar 20%," kata Sugeng pada Selasa (18/01/2021).
Sapronak dimaksud adalah harga pakan dan anakan ayam (day old chicken/ DOC).
Naiknya harga jagung, tentu memicu naiknya permintaan gandum. Bahkan, impor gandum Indonesia diduga rembes ke industri pakan ternak.
Naiknya permintaan gandum kemudian mendorong harga gandum internasional stabil tinggi.(*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement