Profil Xiao Lin - Image from Net
Jakarta, Bolong - Wanita cantik, Xiao Lin (nama Barat Lindsay Zou) dari Columbia Univecity, New York, Amerika Serikat (AS) menulis di medsosnya, menganalisis ekonomi Rusia. Xiao Lin mantan staf JP Morgan, lembaga perbankan dan investasi AS yang didirikan John Pierpont Morgan, 1871.
Xiao Lin mengurai, Rusia punya militer sangat kuat. Bahkan punya senjata nuklir. Berikut analisis Lin:
Tapi jika berbicara soal ekonomi Rusia, coba perhatikan apa yang berubah sejak setengah abad terakhir? Gejolak politik, hiperinflasi, oligarki, perang, krisis ekonomi, reformasi radikal dan masih banyak lagi.
Berbicara soal perekonomian Rusia, kita harus tau tentang masa Uni Soviet. Jadi kali ini, kita akan membahas soal sejarah untuk kembali mengingatkan memori ini.
Pada bulan Februari 1917, sebuah revolusi demokrasi pecah di Rusia, Tsar Nicholas II yang saat itu menguasai Rusia dipaksa turun tahta.
Partai Buruh Sosial Demokrat, yang dipimpin oleh Vladimir Lenin menggulingkan pemerintahan sementara. Setelah perang saudara selama lima tahun pada 1922, akhirnya lahirlah Uni Soviet.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1924 Vladimir Lenin berkuasa sebagai pemimpin tertinggi Uni Soviet.
Sejak saat itu, Uni Soviet benar benar dimulai dan sepenuhnya menerapkan ekonomi terencana. Ekonomi terencana adalah semua sumber daya ekonomi, dari distribusi hingga produksi, bahkan konsumsi direncanakan.
Misalnya, ada kekurangan persediaan di suatu tempat, maka semua persediaan akan ditransfer dengan satu pesanan.
Faktanya, mode ini sangat jelas atau dalam reformasi skala besar keseluruhan itu sangat efisien. Saat itu Uni Soviet sedang dalam proses industrialisasi dan modernisasi, dan itu membuat semuanya tidak cukup, sehingga harus menggunakan ekonomi yang terencana.
Jadi setelah tahun 1928, tiga rencana 5 tahun pertama Joseph Stalin dapat dikatakaan bahwa efeknya sangat luar biasa.
Dapat dikatakan bahwa efeknya luar biasa karena bekas Uni Soviet saat itu dapat berkembang dengan cepat. Mulanya jadi negara agraris paling terbelakang, berubah menjadi negara idustri besar.
Perhatikan, ini adalah GDP per kapita bekas Uni Soviet. Sejak tahun 1920-1940, naik lebih dari tiga kali lipat.
Pada saat yang sama, di Amerika pada tahun 1929 sedang mengalami depresi besar. Ini membuat seluruh daerah Kazakhstan barat sangat menderita.
Jadi, 20 tahun ini di bawah kepemimpinan Stalin membuat ekonomi bekas Uni Soviet membawa rekor tertinggi baru.
Meski dikabarkan bahwa ada berbagai penganiayaan yang terlibat dengan politik di Kazakhstan, perbaikan yang dihasilkan lebih besar.
Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, ini terlihat sangat efektif. Sehingga saat itu dapat merasakan manisnya ekonomi terencana.
Di sisi lain, saat Perang Dunia II, status internasional Uni Soviet meningkat. Dapat dikatakan bahwa situasi sangat membaik dan berada di periode pertumbuhan yang pesat.
Setiap ekonomi direncanakan dan diorganisir dengan baik. Belum lagi, tapi pastinya ekonomi terencana yang terpusat ini juga memiliki masalah, khusunya pada pemerintahan.
Korupsi di pemerintahan bekas Uni Soviet pada saat itu sangat serius. Ini membuat kerusakan yang cukup parah, pada tahun 1964 hingga 1985 Uni Soviet jatuh ke Era stagnasi.
Lihatlah, ini adalah periode GDP per kapita di Uni Soviet. Ini terlihat baik dengan kenaikan yang perlahan, tapi lihatlah AS di garis atasnya.
Dalam perbandingan ini, terlihat jelas perbedaanya. Di saat bersamaan, ketika Perang Dingin semakin intensif Uni Soviet juga mengeluarkan banyak uang untuk militernya.
Garis merah pada gambar di bawah ini adalah Uni Soviet, yang bagian biru adala Amerika Serikat.
Pemerintah pada saat itu juga terlilit hutang, kondisi sulit ini membuat orang harus mengantre berjam untuk dapat membeli makanan.
Pada tahun 1985, Mikhail Gorbachev berkuasa. Lihatlah ini tak baik! Jika terus berlanuut rakyat Uni Soviet akan mati kelaparan.
Dia memutuskan untuk melakukan reformasi radikal secara menyeluruh.
Pertama adalah restrukturisasi, yang disebut Perestroika dalam bahasa Rusia. Artinya, Uni Soviet secara politis dan ekonomi di restrukturiasi total. Diberlakukan juga liberialiasi harga sentral, ada juga kontrol mutlak atas beberapa industri.
Kedua, dilakukan pembukaan atau dalam bahasa rusia Glanost, untuk memperkuat transparansi pemerintah guna memerangi korupsi. Ini juga bertujuan untuk melepaskan kendali opini publik atas rakyat.
Dua kata, yaitu Perestorika dan Glanost awalnya ditransliterasikan dari Bahasa Rusia. Namun, sejak kepemimpinan Gorbachev menjadi dua kata yang satu kesatuan mengacu secara khusus pada reorganisasi dan pembukaan.
Gorbachev ingin melewati dua langkah besar ini dengan menonaktifkan Uni Soviet dan melakukan sentralisasi terbuka.
Tapi tidak disangka itu menjadi masalah besar dan akhrinya menghancurkan Uni Soviet.
Bagaimana bisa?
Bagian ini melibatkan hal yang lebih rumit. Mari perhatikan, runtuhnya Uni Soviet pada Desember 1991. Saat itu, AS memiliki GDP sebbesar 6,2 triliun, sedangkan Uni Soviet hanya 520 miliar, itu hanya sekitar 1/12 dari AS.
Jadi pada dasarnya sudah tak sebanding. Presiden pertama Rusia Boris Yeltsin adalah orang yang lebih radikal. Beberapa oraang berkata bahwa kepribadiannya mirip dengan Donald Trump.
Kepribadian yang lurus, sangat angresif, sensitif, dan berani mengungkapkan pendapatnya.
Ketika Yeltsin mulai berkuasa, ia berharap dapat dengan cepat memulihkan ekonomi Rusia. Sebab bagaimanapun, sebelum negara lain, Amerika Serikat adalah negara besar yang menyainginya.
Yeltsin telah mengikuti hal itu, sebab dia relatif dekat dengan Barat dan menyukai pasar bebas ekstrem semacam itu. Sistem di mana campur tangan pemerintah sangat sedikit.
Dalam ekonomi ini disebut Neoliberialisme dan Neoliberialisme. Dengan kata lain, pada tahun 1989 untuk membimbing beberapa orang Reformasi Ekonomi di Amerika latin Dina Moneter Dunia (IMF) saat itu, Bank Dunia, dan pemerintah AS meluncurkan kebijakan ekonomi Neoliberal ini.
Rangkaian kebijakan ini dibuat di Washington pada saat itu. Setelah itu kebijakan ini dikenal dengan Konsensus Washington.
Mengurangi BUMN, mengurangi pengawasan, mengurangi intervensi. Meskipun rangkaian hal ini awalnya dimaksudkan untuk melakukan reformasi ekonomi untuk setiap minggu. Tapi Yeltsin melihatnya dan sangat menyukainya.
Dia berpikir bahwa AS telah melakukan hal seperti itu. Dan itu membuahkan perkembangan yang baik, dan percaya bahwa Rusia bisa melakukan hal yang sama. (bersambung)
Advertisement