Pelarangan Sedotan Plastik di China Mulai 2021 - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami
Beijing, Bolong.id - Penggunaan kantong plastik, kotak plastik, dan peralatan makan di Tiongkok menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Namun, upaya baru sedang dilakukan untuk mengatasi masalah ini, dimulai dengan larangan semua sedotan plastik di seluruh negeri.
Tahun lalu, Tiongkok telah menggunakan 46 miliar sedotan plastik atau sekitar 30.000 ton, kata perusahaan konsultan iiMedia Research. Padahal, diperlukan waktu 500 tahun untuk mengurai sedotan plastik kecil yang hanya digunakan selama beberapa menit, dilansir dari CGTN, Jumat (25/12/2020).
Oleh sebab itu, Tiongkok melarang semua sedotan plastik sekali pakai yang tidak dapat terurai mulai akhir tahun ini. Akan tetapi, apakah penjual minuman siap dengan larangan tersebut?
Saat ini, sedotan kertas sudah banyak dipakai di sebagian besar gerai sebagai pengganti sedotan plastik. Kedai kopi Kanada Tim Hortons misalnya, mulai menggunakan sedotan kertas bulan lalu, dan telah membagikan 60.000 di antaranya pada bulan ini di Tiongkok.
"Sepertiga konsumen kami telah menggunakan sedotan kertas. Sedotan tersebut dipandang sebagai prioritas. Kami berharap dapat menggunakan 15 juta di antaranya tahun depan," kata He Bin, kepala pemasaran di Tim Hortons Tiongkok.
Toko teh susu dan platform pengiriman makanan yang populer di Tiongkok juga tampaknya siap untuk perubahan tersebut. Dengan berlakunya larangan plastik pada 1 Januari 2021, masalah bagi penjual minuman adalah meroketnya harga sedotan kertas, yang disebabkan oleh permintaan yang meningkat pesat, sementara harga sedotan kertas lima kali lebih mahal dari sedotan plastik.
Duoxixi, sebuah pabrik jerami di Wuxi, Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, baru-baru ini melihat pesanan berlipat ganda pada sedotan yang dapat terurai. Pabrik mengatakan lebih dari 1.000 klien telah menanyakan tentang produk tersebut selama sebulan terakhir, dan harganya telah dinaikkan sebesar 20 persen. Perusahaan juga telah mencari solusi alternatif dengan menghadirkan sedotan yang terbuat dari jenis bahan baru tetapi juga dapat terurai.
"Kami telah menemukan sedotan yang terbuat dari tanaman seperti gandum dan alang-alang, yang 100 persen dapat terdegradasi," kata Ge Jiaping, CEO Duoxixi. "Dan kami baru saja mengembangkan yang baru, terbuat dari serat bambu. Teksturnya lebih baik dan bisa menjadi pengganti sedotan kertas yang baik di masa mendatang."
Di Indonesia sendiri, kampanye untuk meninggalkan sedotan plastik kian gencar dilakukan selama dua tahun terakhir. Sudah banyak restoran dan kafe-kafe yang tidak menyediakan sedotan plastik, dan masyarakat muda juga banyak yang menggunakan sedotan besi yang bisa digunakan lagi. Selain itu, DKI Jakarta juga telah melarang penggunaan kantong plastik yang telah berlaku sejak 1 Juli 2020. (*)
Advertisement