China Keluarkan Rp592 Triliun Bantu Negara Berkembang - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami
Beijing, Bolong.id - Tiongkok terus meningkatkan skala kerjasama internasional. Negara ini memberikan prioritas tinggi kepada negara-negara kurang berkembang di Asia dan Afrika, serta negara-negara berkembang yang berpartisipasi dalam Belt and Road Initiative.
Pernyataan ini muncul dalam artikel yang dikeluarkan oleh Kantor Informasi Dewan Negara pada hari Minggu (10/1/2021).
Tiongkok terus meningkatkan skala dan memperluas cakupan bantuan luar negerinya, tulis artikel berjudul "Kerjasama Pembangunan Internasional Tiongkok di Era Baru" tersebut, dilansir dari en.people.cn, Senin (11/1/2021).
Dari 2013 hingga 2018, diketahui Tiongkok telah mengalokasikan total 270,2 miliar yuan (sekitar Rp592 triliun) untuk bantuan ke luar negeri dalam tiga kategori, yaitu hibah, pinjaman bebas bunga, dan pinjaman lunak.
Hibah sebesar 127,8 miliar yuan (sekitar Rp280 triliun), terhitung 47,3% dari total anggaran, terutama digunakan untuk membantu negara berkembang lainnya dalam membangun proyek kesejahteraan sosial skala kecil dan menengah, serta mendanai proyek untuk kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia, kerja sama teknis, bantuan material, dan bantuan kemanusiaan darurat.
Pinjaman tanpa bunga mencapai 11,3 miliar yuan (sekitar Rp24,7 triliun), merupakan 4,18% dari total anggaran, sementara pinjaman lunak sebesar 131,1 miliar yuan (sekitar Rp287,2 triliun) atau mencapai 48,52% dari nilai total anggaran.
Selain menyelesaikan proyek-proyek, menyediakan barang dan bahan, serta melakukan kerja sama teknis, Tiongkok mendirikan Dana Bantuan Kerja Sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation Assistance Fund) pada 2015 untuk meluncurkan program kerja sama pembangunan, dan terus mengeksplorasi model dan metode baru untuk bantuan luar negeri.
Artikel tersebut juga menjelaskan, demi lebih beradaptasi dengan keadaan baru, Tiongkok telah mereformasi sistem dan mekanisme bantuan luar negerinya guna meningkatkan manajemen dan mempromosikan kerja sama pembangunan internasional di era baru.
Advertisement