Penyemprotan Vaksin untuk Virus African Swine Fever - Image from gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami
Jakarta, Bolong.id - Virus African Swine Fever atau yang dikenal sebagai Demam Babi Afrika adalah wabah yang pertama kali menyebar di Tiongkok pada Agustus 2018 silam. Virus ini telah membunuh jutaan babi di Tiongkok dan membuat inflasi di negara tersebut melonjak naik pada tahun 2019. Wabah ini membuat harga babi di Tiongkok naik dua kali lipat dari dua tahun lalu. Apalagi semenjak merebaknya virus corona, kenaikan harga babi semakin tinggi dan menyebar sangat luas di Tiongkok. Nahasnya, menurut laporan penelitian terbaru, wabah yang menjangkiti babi di Tiongkok ini akan terus berlanjut satu hingga dua tahun mendatang.
Berdasarkan laporan GIRA Consultancy & Research, harga daging babi di Tiongkok per bulan Mei 2020 meningkat 81,7% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski ada sedikit penurunan pada bulan April, yaitu sekitar 8,1%. Terkait masalah ini, pada Jumat lalu (12/6/2020), seorang penasihat senior di GIRA Consultancy & Research, Richard Herzfeld juga menyatakan bahwa para eksportir daging babi dipastikan akan memperoleh keuntungan yang besar dari Tiongkok karena ‘lubang’ produksi di Tiongkok begitu besar dan terjadi kesenjangan produksi babi di dalam negeri akibat demam babi Afrika, melansir dari laman portal CNBC Indonesia. Menurut laporan data bea cukai setempat, impor daging babi ke Tiongkok naik 170% dalam empat bulan pertama di tahun 2020 dibanding periode yang sama tahun lalu.
Hingga saat ini, berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS), dilaporkan terdapat 20 pasar luar negeri yang disetujui untuk ekspor daging babi ke Tiongkok, di antaranya adalah AS, Kanada dan Uni Eropa.*
Advertisement