Lama Baca 3 Menit

Profil Kelenteng Tek Hay Kiong di Kota Tegal, Sejak 1760

05 February 2022, 14:12 WIB

Profil Kelenteng Tek Hay Kiong di Kota Tegal, Sejak 1760-Image-1

Kelenteng Tek Hay Kiong - Gambar diambil dari Internet, jika ada keluhan hak cipta silakan hubungi kami.

Tegal, Bolong.id – Kelenteng Tek Hay Kiong di Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah, salah satu saksi sejarah masyarakat Tionghoa di sana.

Dilansir dari berbagai sumber, kelenteng tersebut sudah ada sejak tahun 1760. Dibangun oleh seorang Kapiten atau Kapten Souw Pek Gwan dengan nama Kelenteng Cin Jin Bio.

Selanjutanya, pada tahun 1837, kelenteng tersebut mengalami restorasi besar-besaran dan berubah nama menjadi Kelenteng Tek Hay Kiong.

Tek Hay Kiong sendiri diambil dari nama kapiten Kota Tegal yang keenam yakni Tan Koen Hway. Dan hingga kini, nama Tek Hay Kiong belum mengalami perubahan.

Sementara Dewa Tek Hay Cin Jin merupakan dewa yang disembah di Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal.

Pendeta Chen Li Wei mengatakan, sosok Dewa Tek Hay Cin Jin bagi umat Tionghoa di Kota Tegal bukan hanya seorang dewa, namun juga sosok yang dianggap berjasa bagi masyarakat Tionghoa di Kota Tegal.

"Beliau dulu pernah hidup dan menetap di Kota Tegal, mengajarkan masyarakat cara menangkap ikan dan cara bercocok tanam," ungkapnya belum lama ini.

Selain itu, menurut salah satu versi cerita, Chen Li Wei menjelaskan, bahwa Tek Hay Cin Jin merupakan tokoh pergerakan melawan VOC yakni saat terjadinya pembantaian masyarakat Tionghoa di Batavia tahun 1740.

Atas jasa itulah sosoknya diangkat menjadi dewa oleh umat Tionghoa di Kota Tegal khususnya di Kelenteng Tek Hay Kiong.

"Beliau dijadikan dewa atas usul dari masyarakat. Karena masyarakat banyak menerima kemurahan hatinya, kehadirannya banyak memberikan berkah untuk masyarakat," jelasnya.

Selanjutnya, masyarakat mengirim surat rekomendasi ke Tiongkok untuk menjadikan Tek Hay Cin Jin menjadi dewa di Kelenteng Tek Hay Kiong.

"Dari sana kemudian mengirimkan utusan untuk mencocokan jasa-jasanya. Setelah disetujui, maka bisa menyandang nama dewa. Karena tanpa persetujuan dari kerajaan Tiongkok, orang tidak bisa sembarang mengangkat jadi dewa," ujarnya.

Sementara nama Tek Hay Cin Jin sendiri, Tek artinya rawa-rawa, Hay itu lautan dan Cin Jin diambil dari nama Kelenteng yang lama yakni Kelenteng Cin Jin Bio. (*)