Lama Baca 3 Menit

PHK Besar-besaran di Perusahaan Teknologi China

31 March 2022, 12:05 WIB

PHK Besar-besaran di Perusahaan Teknologi China-Image-1

ilustrasi pekerja teknologi - Image from berbagai sumber

Beijing, Bolong.id - Dua raksasa perusahaan teknologi besar Tiongkok, Alibaba Group Holding Ltd dan Tencent Holdings Ltd, sedang bersiap memangkas puluhan ribu pekerja dalam putaran pemutusan hubungan kerja (PHK) terbesar tahun ini. Unit streaming video perusahaan Youku juga akan menggelar PHK.

Tetapi mereka masih meningkatkan upaya perekrutan dalam penelitian dan pengembangan.

Dilansir dari 腾讯网 pada Senin (28/03/2022), pakar industri mengatakan industri teknologi sedang menyesuaikan strategi pengembangan. Mengoptimalkan struktur organisasi dan mengalihkan fokus mereka ke model bisnis yang berorientasi efisiensi operasional dengan penekanan pada pertumbuhan jangka panjang dan berkelanjutan.

Bahkan Jingxi, platform e-commerce sosial di bawah JD.com, berencana untuk memberhentikan 10 hingga 15 persen tenaga kerjanya.

Alibaba juga dikabarkan mempertimbangkan PHK setidaknya 15% dari keseluruhan karyawan tahun ini. Ini artinya, jumlah pekerja yang di-PHK oleh raksasa e-commerce itu bisa mencapai 39 ribu orang.

Kemudian, Tencent mempertimbangkan untuk memangkas 10% hingga 15% karyawan di unit bisnis tertentu tahun ini. Sebagian besar PHK akan menyasar unit bisnis komputasi awan (cloud) dan konten. Rencana PHK ketiga perusahaan datang di tengah tekanan Beijing. 

Pemerintah Tiongkok meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan teknologi seperti Alibaba hingga Tencent sejak 2020. Ini termasuk masalah tenaga kerja dan hak-hak konsumen.

Selain itu, perusahaan teknologi mencatatkan kinerja bisnis yang buruk. Unit usaha Jingxi milik JD.com misalnya, mengalami kerugian 3,22 miliar yuan atau Rp 7,2 triliun selama kuartal IV 2021. Angka kerugiannya dua kali lipat lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Tencent juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan hanya 8% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal IV tahun lalu. Pertumbuhan pendapatan itu terendah sejak 2004. Untuk keseluruhan tahun lalu, Tencent menghasilkan pendapatan 560,12 miliar yuan atau Rp 1.262 triliun. Angkanya memang naik 16% dibandingkan 2020. Namun, tingkat pertumbuhan pendapatan tahunan itu menjadi paling lambat dalam catatan Tencent. 

Alibaba pun hanya membukukan kenaikan pendapatan 29% menjadi 200,7 miliar yuan (US$ 31,4 miliar) pada kuartal III 2021. Ini merupakan tingkat pertumbuhan paling lambat selama satu setengah tahun.

Raksasa e-commerce itu juga memperkirakan pendapatan tahunan tumbuh antara 20% dan 23%. Ini lebih rendah dari perkiraan analis.(*)


Informasi Seputar Tiongkok