Kota Terlarang Tiongkok - Image from Alamy
Beijing, Bolong.id - Perubahan iklim merupakan bidang penting kerjasama internasional Tiongkok. Presiden Tiongkok Xi Jinping menghadiri pertemuan puncak virtual tentang perubahan iklim pada Jumat (17/4/2021) bersama dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel.
"Tiongkok, Prancis, dan Jerman dapat memperkuat kerja sama dalam transisi energi, energi terbarukan, teknologi jaringan mikro, teknologi hidrogen untuk penerbangan, pasar karbon, dll.," Wang Jinnan, Presiden Akademi Perencanaan Lingkungan Tiongkok, juga anggota Chinese Academy of Engineering, mengatakan dalam wawancara eksklusif dengan CGTN.
Dilansir dari CGTN pada Minggu (18/4/2021), Wang juga mengatakan mekanisme transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang di bidang perlindungan lingkungan harus dibentuk. Perjanjian Paris telah mengatur mekanisme keuangan, dan negara maju harus memenuhi janji mereka.
"Kita harus selalu mematuhi prinsip tanggung jawab bersama tetapi berbeda," kata Wang.
"Negara maju dan negara berkembang memiliki kontribusi yang berbeda terhadap dampak perubahan iklim, dan tentunya tanggung jawab mereka juga berbeda," jelasnya.
Dia juga menekankan, pada tahap ini, sangat perlu untuk menggabungkan proses pemulihan ekonomi pasca pandemi dengan proses penanggulangan perubahan iklim. Sementara itu, Wang pun menilai bahwa Tiongkok sendiri berupaya untuk memainkan peran yang lebih besar di platform internasional seperti Kelompok 77, negara-negara BASIC (Brasil, Afrika Selatan, India, dan Tiongkok) dan Belt and Road Initiative.
Terkait tentang kunjungan utusan khusus Amerika Serikat (AS) John Kerry ke Tiongkok, Wang mengatakan banyak yang harus dilakukan untuk memajukan kerja sama bilateral dalam mengatasi perubahan iklim. Pertama, kedua pemerintah harus membentuk mekanisme kerja sama. Kedua, mendorong terjalinnya hubungan kerjasama antara pemerintah daerah Tiongkok dengan pemerintah negara bagian AS, terutama pemerintah daerah yang harus berperan aktif dalam menyikapi perubahan iklim. Ketiga, mendorong kerja sama antar industri di kedua negara untuk bersama-sama mengembangkan teknologi kunci netral karbon dan inovasi disruptif. Terakhir, membuka kembali penelitian dan pertukaran akademik serta melakukan kerjasama penelitian. (*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement