Pesawat Boeing 737 milik China Eastern Airlines - Image from berbagai sumber. Segala keluhan terkait hak cipta silahkan hubungi kami
Jakarta, bolong.id - Pesawat Boeing 737 yang diterbangkan maskapai China Eastern Airlines jatuh di wilayah otonomi Guangxi Zhuang di wilayah selatan Tiongkok pada Senin siang (21/3/2022) waktu setempat. Terdapat 132 orang di pesawat jatuh tersebut, termasuk kru.
Pesawat jatuh Boeing 737 itu bertolak dari Kunming di Provinsi Yunnan menuju Guangzhou di Provinsi Guangdong.
Terkait jenis pesawat ini, Boeing tercatat telah menjual lebih dari 15.000 mesin 737, menjadikannya pesawat komersial dengan penjualan tertinggi dalam sejarah.
Namun, terlepas dari popularitasnya, Boeing ternyata telah menghadapi berbagai isu masalah keselamatan terkait salah satu versi mesin terbarunya. Selain kecelakaan China Eastern Airlines, pesawat Boeing telah terlibat dalam beberapa kecelakaan tingkat tinggi selama beberapa tahun terakhir.
Sejak tahun 2000, telah terjadi 74 insiden yang melibatkan pesawat Boeing, di mana 13 diantaranya cukup fatal meski sudah menggunakan desain generasi terbaru.
Misalnya saja, ada dua insiden yang secara khusus memicu larangan terbang Boeing 737 MAX di seluruh dunia. Insiden itu adalah kecelakaan pesawat pada Lion Air Penerbangan 610 di 29 Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines Penerbangan 302. Kedua pesawat dengan mesin 737 MAX 8 itu jatuh tak lama setelah lepas landas, menewaskan semua orang di kedua pesawat.
Imbasnya, otoritas penerbangan di seluruh dunia mengkandangkan pesawat sebagai tanggapan antara Maret 2019 dan Desember 2020.
Namun, penting untuk dicatat bahwa terlibat dalam insiden semacam itu tidak membuat pesawat menjadi lebih berbahaya. Boeing 737 generasi terbaru telah menerbangkan 12,5 juta penerbangan aman untuk setiap kecelakaan fatal. Bahkan, pesaing terdekat Boeing 737, Airbus A320, memiliki catatan keselamatan yang identik menurut data akhir tahun 2019.
Meskipun demikian, insiden tersebut cenderung berdampak buruk pada reputasi Boeing. Kecelakaan terbaru di Tiongkok bahkan memicu penurunan harga saham hingga 8 persen pada 21 Maret 2022.
Adapun 737 MAX pertama kali mulai terbang secara komersial pada tahun 2017 dan desainnya relatif tidak banyak berubah. Namun, perbedaan utamanya adalah MAX memiliki mesin yang lebih senyap dan lebih efisien, dipasang lebih jauh ke depan di pesawat, dan lebih dekat ke bagian depan sayap.
Perbedaan ini menimbulkan masalah aerodinamis dalam "kondisi penerbangan yang tidak biasa", namun, untuk mengatasi ini, Boeing sudah memasang perangkat lunak khusus yang disebut Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) untuk "memberikan kualitas penanganan yang konsisten".
Menyusul kontroversi seputar dua kecelakaan itu, terungkap bahwa Administrasi Penerbangan Federal di AS tidak sepenuhnya mengetahui sistem baru ini.
Akibatnya, pada Januari 2021, Departemen Kehakiman AS menyatakan Boeing bersalah atas konspirasi untuk menipu Amerika Serikat atas sertifikasi 737 MAX, di mana mereka harus membayar denda dan kompensasi lebih dari $2,5 miliar (USD).
Advertisement