Lama Baca 3 Menit

Harga Tembaga Dunia Menguat, China Jadi Pengaruh Utama

11 December 2020, 11:51 WIB

Harga Tembaga Dunia Menguat, China Jadi Pengaruh Utama-Image-1

Harga Tembaga Menguat, China Jadi Pengaruh Utama - gambar diambil dari internet, segala keluhan mengenai hak cipta, dapat menghubungi kami

Jakarta, Bolong.id - Harga tembaga di pasar dunia, kini menguat. Tiongkok salah satu pengekspor terbesar. Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan penguatan harga tembaga menjadi indikator bahwa ekonomi global sedang membaik.

Sebaliknya, pelemahan harga tembaga bisa menjadi indikasi pelemahan ekonomi global. Harga tembaga memang dikenal sebagai refleksi dari kekuatan ekonomi global dengan Tiongkok yang membawa pengaruh terbesar.

"Penguatan harga tembaga mengonfirmasi bahwa manufaktur China sudah sehat dan ketika permintaan dan harga tembaga menguat maka komoditas lain juga akan ikut menguat," pungkas Wahyu, dilansir dari kontan.co.id, Jumat (11/12/2020). 

Harga tembaga sempat anjlok di awal tahun dan berhasil rebound di Maret hingga saat ini. Kenaikan harga tersebut sempat mencapai rekor tertinggi pada USD7.760 (sekitar Rp109 juta) per metrik ton pada pekan lalu. Penguatan harga ini terjadi karena permintaan tembaga mulai naik di tengah pasokan yang menipis. 

Saat pandemi menyerang di awal tahun, produksi tembaga mengalami penurunan. Namun, saat ini ekonomi Tiongkok yang mengonsumsi hampir setengah dari pasokan tembaga global sudah membaik dan menjadi penyokong permintaan tembaga. 

Wahyu mencatat selama enam bulan pertama, meski terjadi pandemi, impor tembaga mencapai 2,84 juta, meningkat 25% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara, peningkatan impor tembaga oleh Tiongkok naik 50% secara bulanan di Juni dan menjadi rekor tertinggi di 656.482 ton. 

Wahyu memperkirakan permintaan logam yang kuat oleh Tiongkok akan terus berlanjut. Faktor pendukung datang dari stimulus pemerintahan Tiongkok sendiri, seperti pembebasan pajak dan suku bunga rendah demi memulihkan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19. 

"Tembaga merupakan konduktor listrik non logam mulia terbaik yang kemungkinan akan menjadi pendorong utama permintaan di masa depan jika Tiongkok beralih ke sistem energi terbarukan," ujar Wahyu. Hal ini berarti, harga tembaga kedepannya akan terus berpotensi menguat seiring dengan dukungan Tiongkok yang tengah beralih ke sistem energi terbarukan. 

Ini juga sejalan dengan ambisi Tiongkok menjadi pusat manufaktur kendaraan listrik, yang dapat mendorong konsumsi tembaga di Negeri Tirai Bambu tersebut. Tembaga merupakan komponen penting dalam kendaraan listrik dan digunakan dalam baterai dan infrastruktur kabel.