Nanjing, Bolong.id - Seorang pria dijatuhi hukuman mati karena memperkosa dan membunuh seorang mahasiswi, pada 28 tahun lalu di Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok. Ia diadili pada 14 Oktober 2020.
Ma Jigang, si pemerkosa, sekarang 54 tahun. Pada 20 Maret 1992 seorang mahasiswi bermarga Lin sedang belajar sendiri di sebuah ruang kelas di Nanjing Medical University (saat itu Nanjing Medical College). Ma Jigang mendekatinya membawa batang besi. Memaksa Lin pergi ke halaman gedung, demikian dilansir dari China Daily, Minggu (18/10/2020).
Di halaman, Ma memperkosa Lin yang melawan. Terjadi pergumulan. Perkosaan tetap terjadi. Lantas Ma memukul kepala Lin dengan besi berulang kali. Lin terkulai. Ma kemudian menyeret Lin keluar dari halaman dan menjatuhkannya ke dalam sumur. Tas, buku, dan pakaian Lin dijatuhkan ke sumur terdekat lainnya.
Tubuh Lin ditemukan empat hari kemudian. Tim forensik mengkonfirmasi bahwa dia meninggal karena asfiksia mekanik atau mati lemas yang terjadi bila udara pernapasan terhalang yang disebabkan oleh tenggelam dan luka di kepalanya.
Polisi Nanjing menyelidiki. Hari demi hari, bulan demi bulan, polisi kesulitan mengungkap kasus ini. Sampai polisi mewawancarai lebih dari 15.000 orang. Saksi, keluarga korban, teman, para ahli, dan orang-orang yang terkait. Tidak juga ada titik terang.
Polisi meminta bantuan Kementerian Keamanan Umum dan biro keamanan publik di provinsi lain. Namun, gagal menemukan tersangka.
Februari 2020, polisi Nanjing menerima informasi dari polisi Kabupaten Peixian bahwa tersangka yang DNA-nya ditemukan di TKP, terkait dengan seorang pria yang sedang diselidiki di kabupaten tersebut. Menurut kepolisian, mungkin tersangka ini masih kerabat dengan tersangka pemerkosa pada 28 tahun silam.
Segera dilakukan uji DNA terhadap keluarga, kerabat tersangka yang ditangkap itu. Hasilnya, sepupu laki-laki tersangka itu yang tinggal di Nanjing, dan jarang mengunjungi Kabupaten Peixian, cocok dengan deskripsi tersangka pemerkosaan tahun 1992 tersebut.
Akhirnya polisi Nanjing menangkap Ma di komunitas perumahan di kota itu setelah memastikan bahwa DNA-nya identik dengan air mani tersangka. Ma langsung ditangkap.
Ma pernah bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan terkenal di Nanjing selama bertahun-tahun. Para tetangganya mengatakan bahwa Ma suka membantu orang. Bersikap baik terhadap tetangga.
Ma mengatakan bahwa dia berpikir untuk menyerahkan dirinya ke polisi, tetapi akhirnya memutuskan untuk mengambil kesempatan dan menghindari keadilan. Setelah polisi mengumpulkan DNA-nya, dia juga berpikir untuk melarikan diri dari kota, tetapi dia membatalkan rencananya karena polisi akan menangkapnya dengan mudah, menurut Majalah Fangyuan.
Sehari sebelum Ma ditangkap, dia mengajak istrinya jalan-jalan yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Dia juga memberitahu anggota keluarganya bahwa dia ingin menjadi orang yang membukakan pintu jika ada yang mengetuk malam itu. Ma juga memilih tidak memiliki anak selama bertahun-tahun setelah menikah untuk menghindari kemungkinan bahaya bagi mereka karena riwayat kejahatannya.
Ibunda almarhum Lin, menghadiri persidangan di Nanjing. Dia mengunjungi ruang kelas tempat putrinya terakhir kali terlihat hidup, rutin setiap tahun sejak kematiannya, tetapi harus berhenti pada tahun 2011 karena kesehatan yang buruk.
Lan Tianbin, seorang pengacara pada Kantor Hukum Dongheng, mengatakan bahwa sang ibu mungkin mendapatkan kompensasi dari Ma, tetapi jumlahnya akan terbatas.
Advertisement