Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov di Belarus - Image from hepingribao.com
Bolong.id - Indonesia sebagai Ketua G20 harus menggunakan pengaruhnya untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah terjadinya krisis lanjutan Rusia serta terus mendorong upaya nonkekerasan guna menghentikan invasi militer di Ukraina.
Dilansir dari 和平日报 pada Kamis (3/3/2022), Teuku Rezasyah pakar hubungan internasional Universitas Nasional Padjadjaran berkomentar, Indonesia memiliki banyak faktor yang menjadikannya sebagai mediator antara Rusia dan Ukraina, diantaranya:
Pertama, Indonesia merupakan negara yang menerapkan kebijakan netralitas, mengutamakan dialog dan menghormati hukum internasional.
Kedua, Indonesia memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dan semakin berperan penting dalam menjaga perdamaian dunia.
Ketiga, solusi krisis Indonesia yang sudah berlangsung lama seringkali sangat diakui oleh Gerakan Non-Blok (GNB), Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan negara-negara cinta damai.
Di sisi lain, menurut ahli, Indonesia berpotensi menjadi penengah konflik Rusia dan Ukraina. Pasalnya, diperlukan pihak netral untuk menengahi dan menghentikan perang itu. Riza Noer Arfani, pakar hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut Indonesia mampu menjadi penengah lantaran ada di Presidensi G20.
"Perang ini adalah permukaan paling atas dari masalah-masalah Rusia-Ukraina yang menumpuk tidak terselesaikan. Dialog konstruktif gagal dirancang. Perang sudah terjadi. Yang diperlukan adalah pihak di luar AS dan sekutunya. Apakah Tiongkok, India, atau Indonesia. Indonesia, menurut saya, bisa karena ada di Presidensi G20,” kata Riza.
Untuk diketahui, pasukan Rusia telah menyerang Ukraina usai Presiden Vladimir Putin mengizinkan operasi militer khusus di timur negara itu.(*)
Informasi Seputar Tiongkok
Advertisement